Dalam kehidupan seorang muslim, doa bukan sekadar aktivitas ibadah yang dilakukan di waktu-waktu tertentu, melainkan kebutuhan batin yang terus menyertai perjalanan hidup. Setiap manusia menyimpan ruang kosong dalam jiwanya untuk merasa didengar, diperhatikan, dan dikuatkan. Al-Qur’an menyingkap kebutuhan ini melalui penegasan bahwa Allah dekat dengan hamba-hamba-Nya, terutama ketika mereka berdoa.
Berikut ayat dan terjemahannya:
وَإِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۖ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Munasabah Ayat
Para mufassir seperti Abu Ja‘far Al-Ṭabarī dalam kitabnya Jami‘ Al-Bayan (1984, hlm 94-96) menjelaskan bahwa ayat ini tidak hadir secara terpisah. Letaknya di antara ayat-ayat puasa menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan makan dan minum, tetapi juga tentang membangun interaksi spiritual, memperbanyak doa, dan merasakan kedekatan Allah. Al-Tabari menekankan bahwa ayat ini menjadi isyarat bahwa berdoa adalah bagian dari penyempurnaan ibadah puasa.
Selain itu, munculnya ayat ini sebagai jawaban atas pertanyaan para sahabat mengenai “sejauh mana jarak antara hamba dan Allah” menunjukkan bahwa pendidikan spiritual dalam Islam dibangun melalui keyakinan akan kedekatan Allah. Itulah sebabnya ayat ini menjadi ayat yang sangat personal, seolah-olah Allah berbicara langsung kepada hati manusia tanpa perantara.
Hikmah Ayat Menurut Para Mufassir
Ayat ini memuat banyak pelajaran berharga yang dijelaskan oleh para mufassir, baik ulama terdahulu maupun masa kini. Pelajaran tersebut tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga menyentuh aspek ketenangan jiwa, kekuatan spiritual, serta pembentukan sifat dan karakter seorang hamba.
1. Allah Dekat Tanpa Perantara
Para mufassir seperti Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsīr Al-Qur’ān Al-‘Aẓīm (n.d,.juz 3 hal 498-499) menegaskan bahwa hikmah terbesar dari ayat ini adalah cara Allah menyampaikan kedekatan-Nya. Tidak seperti ayat-ayat lain yang diawali dengan perintah “katakanlah”, Allah langsung berfirman, “Aku dekat.” Ini menunjukkan bahwa Allah ingin hamba merasakan kedekatan-Nya secara langsung dan personal.
Hikmah ini membentuk keyakinan bahwa doa tidak memerlukan jarak, makelar, atau medium. Allah membuka ruang komunikasi langsung dengan hamba, yang menjadi pondasi hubungan spiritual dalam Islam.
2. Kedekatan Allah Bukan Soal Jarak, Tapi Rahmat-Nya
Ar-Rāzī dalam kitabnya Mafātīḥ Al-Ghayb (1981, juz 5 hal 179) menyebutkan bahwa hikmah ayat ini adalah penegasan prinsip tauhid: Allah tidak terikat ruang. Kedekatan-Nya tidak bermakna kedekatan fisik, tetapi kedekatan rahmat, perhatian, dan pengabulan.
Dengan demikian, ayat ini meluruskan persepsi hamba bahwa doa tidak bergantung pada tempat atau posisi, melainkan pada hati yang membutuhkan Allah. Hikmahnya adalah menghapus keraguan tentang bagaimana doa bisa sampai kepada-Nya.
3. Doa Itu Mudah dan Terbuka untuk Semua Orang
Al-Ālūsī dalam kitab Rūḥ Al-Ma‘ānī (1994, jilid 2 hal 78) menekankan bahwa ayat ini mengandung hikmah luar biasa: Allah hanya mensyaratkan satu hal untuk mendapatkan perhatian-Nya ketika seorang hamba berdoa. Tidak ada batasan bahasa, waktu, tempat, atau syarat fisik tertentu. Hikmahnya adalah bahwa Islam menempatkan doa sebagai ibadah paling mudah dan paling inklusif; siapa pun dapat mengerjakannya kapan pun, di mana pun.
4. Semakin Taat, Semakin Dekat Doanya Dikabulkan
Al-Qurṭubī dalam kitab Al-Jāmi‘ Li Aḥkām Al-Qur’an (1964, hal 312), menjelaskan bahwa kedekatan Allah dengan hambanya berbanding lurus dengan tingkat ketaatan hamba tersebut. Doa adalah tanda kedekatan, sedangkan ketaatan adalah bukti kualitas kedekatan itu.
Hikmah ayat ini ialah bahwa doa tidak dapat dipisahkan dari ketaatan; keduanya saling menguatkan. Ketika seseorang memperbaiki hubungannya dengan Allah, doa-doanya pun semakin dekat dengan pengabulan.
Doa dalam pandangan ini bukan hanya permintaan, tetapi proses pembinaan jiwa. Hikmahnya adalah bahwa doa membersihkan batin, mengarahkan pikiran, dan menuntun seseorang menuju kehidupan yang lebih bijak dan terarah.
Aktualisasi Ayat dalam Kehidupan Sehari-Hari
1. Membiasakan Doa di Setiap Kesempatan
Tidak menunggu masalah besar untuk berdoa. Setiap aktivitas bangun tidur, belajar, bekerja, atau bepergian dapat dimulai dengan doa agar hati terbiasa bergantung kepada Allah.
2. Berdoa dengan Yakin dan Tenang
Ketika memanjatkan doa, hadirkan keyakinan bahwa Allah benar-benar mendengar. Ini membangun ketenangan jiwa, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan optimisme hidup.
3. Menjaga Ketaatan sebagai Penguat Doa
Aktualisasi ayat ini ditunjukkan dengan memperbaiki ibadah: shalat yang lebih khusyuk, menjauhi maksiat, memperbanyak istighfar, dan meningkatkan amal baik.
4. Menjadikan Doa sebagai Sarana Evaluasi Diri
Setiap doa menjadi momen untuk menilai diri: apa yang kita butuhkan, apa hambatan batin kita, dan bagaimana memperbaiki hubungan dengan Allah.
5. Menggunakan Doa sebagai Penopang Mental
Saat cemas, stres, atau menghadapi ketidakpastian, doa menjadi terapi batin. Keyakinan akan kedekatan Allah membuat seseorang lebih stabil secara emosional.
6. Mengutamakan Doa Sebelum Mengambil Keputusan
Karena doa membawa kepada al-rushd, maka umat Islam seharusnya membiasakan doa sebelum memutuskan langkah penting belajar, bekerja, menikah, memilih jalan hidup, dan sebagainya.
7. Mengajarkan Doa kepada Keluarga dan Anak-anak
Mengajarkan doa sejak dini menjadikan ayat ini hidup dalam rumah tangga, menumbuhkan rasa dekat kepada Allah, dan membentuk karakter religius yang kuat.
Kesimpulan
Doa dalam ayat ini bukan sekadar permintaan, melainkan ibadah yang menyatukan sikap tunduk, iman, kejujuran hati, dan kebutuhan manusia kepada Tuhannya. Respons Allah terhadap doa mencakup berbagai bentuk kebaikan—baik dikabulkan secara langsung, diganti dengan yang lebih baik, dicegah dari keburukan, atau disimpan sebagai pahala di akhirat.
Ayat ini juga mengaitkan doa dengan ketaatan dan iman, menunjukkan bahwa kedekatan dengan Allah melahirkan perilaku baik, ketenangan batin, dan kebijaksanaan (al-rushd). Karena itu, berdoa bukan hanya pengalaman spiritual, tetapi juga proses pembinaan diri yang menumbuhkan kematangan mental dan karakter.
Dalam kehidupan sehari-hari, ayat ini mengajarkan agar umat Islam membiasakan doa di setiap keadaan, menghadirkan keyakinan kuat saat berdoa, menjaga ketaatan sebagai penguat doa, dan menjadikan doa sebagai sumber ketenangan sekaligus pedoman dalam mengambil keputusan.
Referensi
Al-Alusi. Rūḥ Al-Ma‘ānī, Jilid 2 (Beirut: Dār Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1994)., n.d.
Al-Qurṭubī. Al-Jāmi‘ Li Aḥkām Al-Qur’Ān, Jilid 9, Kairo: Dār Al-Kutub Al-Miṣriyyah, 1964., n.d.
Al-Ṭabarī, Abu Ja‘far. Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’Wīl Ay Al-Qur’Ān, Beirut: Dar Al-Fikr, 1984., n.d.
Fakhr al-Dīn al-Rāzī. Mafātīḥ Al-Ghayb, Juz 25 (Beirut: Dār Al-Fikr, 1981), n.d.
Ibn Kathīr. Tafsīr Al-Qur’ān Al-‘Aẓīm, Juz 3, Beirut: Dār Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, n.d.
Muḥammad al-Ṭāhir ibn ‘Āsyūr. Al-Taḥrīr Wa Al-Tanwīr, Juz 12 (Tunis: Dār Sahnūn, 1997), n.d.
Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta

