Generasi Z hidup di era ketika semuanya serba cepat, diantaranya informasi datang tanpa henti, standar sukses berubah setiap hari, dan apa yang terlihat di media sosial sering membuat hidup orang lain tampak sempurna. Tidak heran banyak para Gen-Z merasa tertekan ketika kenyataan tidak sesuai harapan, seperti gagal masuk kampus tujuan, belum menemukan pekerjaan yang pas, hubungan tidak berjalan, atau merasa tertinggal dari teman-teman sendiri.
Dalam kondisi seperti itu, QS. Al-Baqarah:216 memberi pengingat yang menenangkan: apa yang kita inginkan belum tentu baik, dan apa yang membuat kita kecewa belum tentu buruk. Kadang kegagalan justru menghindarkan kita dari masalah yang lebih besar. Kadang penolakan membuka jalan baru yang ternyata lebih cocok.
Ayat ini mengajarkan Gen Z untuk lebih tenang menjalani hidup. Allah tidak selalu memberi apa yang kita mau, tetapi selalu memberi apa yang kita butuh. Dan sering kali, rencana-Nya baru terlihat indah setelah waktu berlalu.
Berikut ayat dan terjemahnya:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]:216)
Asbab Nuzul
Ayat ini turun ketika kaum Muslimin pertama kali diwajibkan berjihad, yang terasa berat karena risiko luka, kematian, perjalanan jauh, dan menghadapi musuh. Ibnu Katsîr dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓim, (Jilid 1, hlm. 428) menjelaskan, “وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ” berarti sesuatu yang sangat berat dan sulit. Namun Allah menegaskan, hal yang dibenci bisa menjadi kebaikan, dan hal yang disukai bisa membawa keburukan.
Makna ini relevan bagi Gen Z yang hidup dalam tekanan ekspektasi, persaingan akademik, tuntutan karier, dan kecemasan sosial. Banyak hal terasa berat, seperti gagal meraih target atau rencana hidup yang tak sesuai harapan. Ayat ini mengingatkan bahwa hal yang tidak diinginkan bisa menjadi jalan kebaikan, karena Allah memberi berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan.
Penafsiran Mufassir
Al-Marāghī dalam kitabnya Tafsīr al-Marāghī (Jilid 1, hlm. 132–134), menekankan bahwa ada perintah Allah yang terasa berat, seperti jihad, karena manusia cenderung menghindari risiko dan pengorbanan. Namun sesuatu yang tidak menyenangkan belum tentu buruk, dan sesuatu yang menyenangkan belum tentu baik. Banyak kebaikan hadir lewat proses melelahkan, sementara kerusakan datang dari hal yang tampak menyenangkan sesaat.
Relevan bagi Gen Z yang cenderung ingin instan, menghindari tekanan, dan menilai dari rasa nyaman. Menghadapi tanggung jawab justru membuka peluang besar dan ridha Allah, karena pengetahuan manusia terbatas, sedangkan Allah mengetahui manfaat tersembunyi di balik setiap perintah.
Menurut Asy-Sya‘rāwī dalam Tafsir Asy-Sya‘rawi (jilid 1, hlm. 921–922), manusia sering menilai hidup dari keterbatasan pengetahuan, sehingga menganggap sesuatu buruk hanya karena terasa berat. Allah mengetahui hakikat akhir setiap urusan. Kisah Musa dan Khidr menunjukkan bahwa hal yang tampak buruk bisa menyimpan kebaikan besar, sedangkan yang tampak menyenangkan kadang membawa mudarat.
Pesan ini relevan bagi Gen Z yang menghadapi tekanan prestasi, kegagalan, dan ketidakpastian hidup. Hal yang mereka benci, seperti proses panjang atau kegagalan, bisa menjadi jalan pertumbuhan dan peluang yang belum terlihat.
Tantawi dalam At-Tafsir Al-Wasith lil-Qur’an Al-Karim (jilid 1, hlm. 468), menekankan bahwa ayat ini mengingatkan manusia bahwa perintah Allah bisa terasa berat karena risiko dan pengorbanan. Hal yang tidak disukai bisa membawa manfaat, sedangkan yang disukai bisa merusak. Bagi Gen Z, hal ini relevan dalam menghadapi tantangan hidup modern: belajar sungguh-sungguh, meninggalkan zona nyaman, menghadapi kegagalan, atau menahan nafsu.
Proses yang berat sering menjadi pintu kebaikan dan kedewasaan. Allah mengetahui kebaikan di balik perintah-Nya, sementara manusia melihat dengan pengetahuan terbatas. Gen Z diajak tidak menilai hidup hanya dari perasaan sesaat, tetapi percaya bahwa hikmah Allah lebih luas.
Istifadah untuk Gen Z
QS. Al-Baqarah [2]:216 mengajarkan Gen Z menghadapi hidup yang berat. Hal sulit atau tidak menyenangkan, seperti belajar sungguh-sungguh, gagal, atau meninggalkan zona nyaman, bisa membawa kebaikan jangka panjang. Hal menyenangkan sesaat, seperti menghindar dari tanggung jawab atau terlalu asyik hiburan, bisa merugikan. Solusinya adalah bersabar, fokus pada tujuan bermanfaat, menilai sesuatu dari hikmah jangka panjang, dan menjadikan ridha Allah sebagai motivasi. Dengan begitu, kegagalan atau tantangan bukan akhir, tetapi bagian dari proses belajar, dewasa, dan meraih masa depan lebih baik.
Kesimpulan
QS. Al-Baqarah [2]:216 mengajarkan bahwa hidup sering menghadirkan hal berat atau tidak sesuai keinginan, namun di balik kesulitan tersimpan kebaikan yang mungkin tidak terlihat saat ini. Bagi Gen Z, ayat ini menjadi pengingat bahwa kegagalan, tantangan, atau ketidaknyamanan bukan akhir segalanya, melainkan bagian dari proses pertumbuhan dan pembentukan karakter. Dengan kesabaran, fokus pada tujuan bermanfaat, dan menjadikan ridha Allah motivasi, Gen Z dapat menghadapi tekanan hidup modern dengan bijak dan memanfaatkan setiap pengalaman untuk menuju masa depan lebih baik.
Refrensi :
Ibnu Katsîr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Jilid 1, hlm. 428.
Aḥmad ibn Muṣṭafā al-Marāghī, Tafsīr al-Marāghī, Jilid 1, hlm. 132–134.
Muhammad Mutawalli Asy-Sya‘rawi, Tafsir Asy-Sya‘rawi, jilid 1, hlm. 921–922.
Muhammad Syid Thantawi, At-Tafsir Al-Wasith lil-Qur’an Al-Karim, jilid 1, hlm. 468.
Mahasiswa Ilmu Al Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta

