Pada masa awal dakwah, umat Islam mengalami penindasan berat. Mereka diboikot secara sosial dan ekonomi. Ummu Jamil, istri Abu Lahab, dikenal aktif menyakiti Rasulullah Saw dengan menebar duri di jalan yang biasa beliau lalui sebagai bentuk kebencian terhadap Islam.
Tekanan juga datang dari keluarga elite Quraisy. Utbah dan ‘Utaibah, putra Abu Lahab, menikahi Ruqayyah dan Ummu Kultsum, putri Nabi Saw. Namun pernikahan itu diputus karena tekanan Abu Lahab dan Ummu Jamil yang menentang keras dakwah Rasulullah Saw.
Term Zaujah, Imra’ah, Shohibah
Al-Qur’an sendiri memberi gambaran menarik tentang relasi pasangan melalui pilihan istilahnya. Kata zauj/zaujah digunakan untuk pasangan yang harmonis dan sejalan, sebagaimana firman Allah:
اُسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ
ayat tersebut menunjukkan ideal relasi pasangan yang harmonis dan kesatuan visi.
Sebaliknya, Al-Qur’an menggunakan istilah imra’ah untuk pasangan yang relasinya tidak harmonis, terutama dalam aspek iman dan nilai. Hal ini tampak dalam ayat:
وَامْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ
serta:
وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ
Kedekatan fisik tidak menjamin kesatuan spiritual.
Lebih jauh, Al-Qur’an memakai istilah shahibah untuk menggambarkan pasangan yang tidak saling peduli :
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِۙ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِۙ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيه
Kasih Sayang Nabi
Perbedaan sikap para nabi juga terlihat dalam doa mereka. Nabi Nuh pada saat ditindas berdoa dengan ketegasan:
رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا
Sedangkan Rasulullah Saw justru menunjukkan kasih sayang saat ditindas:
اللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Puncak ujian Rasulullah Saw terjadi pada tahun ‘Amul Huzn. Setelah masa boikot, Khadijah RA wafat, disusul Abu Thalib yang ayah dari Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah sebagai pelindung beliau. Dalam kondisi duka itulah Allah menghadiahkan peristiwa Isra’ Mi‘raj.
Sedikit melipir, berbeda dengan yang lainnya Ali bergelar Karamallahu wajhah, gelar ini sering disalah pahami melalui cerita-cerita populer bahwa ali tidak pernah melihat kemaluannya sendiri. Makna yang benar, Allah memuliakan wajah Ali karena ia tidak pernah menghadapkan wajahnya kepada berhala. Sejak kecil, Ali hidup dalam kemurnian tauhid dan tidak pernah menyembah selain Allah, sehingga wajahnya dimuliakan dari noda kemusyrikan.
Isra’ Mi’raj
Ayat yang diawali dengan tasbih memiliki arti bahwa ayat tersebut itu memiliki makna yang sangat spektakuler, sebagian ayat Isra’ Mi‘raj :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا
Peristiwa ini menegaskan kemuliaan Rasulullah Saw sekaligus kebesaran Allah dan menandakan bahwa peristiwa ini adalah peristiwa spektakuler.
Menariknya, Nabi tidak langsung menuju Sidratul Muntaha. Beliau singgah di beberapa tempat suci seperti Thur Sina (tempat Nabi Musa mendapatkan Wahyu), Nazaret(tempat Nabi Isa lahir), dan Baitul Maqdis. Pesannya jelas: dalam hidup, kemuliaan dicapai melalui proses, bukan jalan pintas.
Di puncak Mi‘raj, ketika Jibril tidak lagi mampu melanjutkan perjalanan, Rasulullah Saw bertemu di hadirat Allah. Dalam momen agung itu, Allah memberi penghormatan dengan salam:
السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ
Namun Rasulullah Saw tidak membalas secara personal. Beliau justru menjawab:
السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَىٰ عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
Sikap ini menunjukkan sisi humanis Nabi, bahwa keselamatan tidak hanya untuk dirinya, tetapi untuk seluruh hamba Allah yang saleh.
Wallahu A’lam
Referensi
Kajian Prof. Dr. Darwis Hude, M.Si. di Ma’had Al Qur’an via Zoom meet

Muhammad Nabil Husain | Founder Teras Afkar, mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta, alumni Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon.

