Keutamaan Sya’ban yang Sering Dilalaikan

 

Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan memiliki filosofi spiritual yang saling berkaitan. Rajab adalah bulan menanam amal kebaikan, Sya’ban bulan menyiram dan merawatnya, sementara Ramadhan adalah waktu memanen hasilnya. Semakin serius persiapan seseorang, semakin besar keberhasilan spiritual yang diraih, sesuai sunnatullah.

Ramadhan adalah bulan suci yang paling mulia karena di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, kalam Allah yang menjadi petunjuk hidup umat manusia. Al-Qur’an diterima oleh Sayyidul Mursalin, Nabi Muhammad Saw, dan disampaikan oleh Sayyidul Malaikah, Jibril As, sementara Sya’ban adalah bulan mulia sebagai pengantar agung menuju Ramadhan.

Bulan Menyiram Kebaikan atau Diangkatnya Amal Baik

Sya’ban dikenal sebagai bulan diangkatnya amal-amal manusia. Pada fase ini, seorang mukmin diajak meluruskan niat dan memperbaiki orientasi ibadah. Allah menegaskan bahwa inti perintah agama adalah keikhlasan dan ketaatan yang murni kepada-Nya.

Meluruskan Niat

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 5)

Perbanyak Istighfar/instrospeksi diri

Sya’ban juga menjadi momentum memperbanyak istighfar dan introspeksi diri. Allah membuka pintu harapan selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin kembali kepada-Nya, betapapun besar dosanya selama ia mau bertobat dengan sungguh-sungguh.

قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. (QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini menjelaskan bahwa seluruh dosa dapat diampuni selama disertai tobat, termasuk dosa syirik. Namun dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa dosa syirik tidak akan diampuni jika pelakunya tidak bertobat sebelum wafat.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. (QS. An-Nisa: 48)

Puasa Sunnah

Puasa sunnah di bulan Sya’ban merupakan bentuk ikhtiar spiritual dan riyadhah jiwa. Namun, Islam menekankan keseimbangan. Jangan sampai terlalu giat ibadah sunnah justru melemahkan kewajiban utama, terutama dalam menuntut ilmu dan bekerja.

Bagi seorang pelajar, tirakat terbaik adalah belajar dengan sungguh-sungguh. Para ulama menyebutkan:

 ثبات العلم بالملازمة

ilmu akan kokoh dengan ketekunan.

Islam tidak mengajarkan meninggalkan kewajiban demi mengejar ibadah sunnah semata.

Memperbaiki hubungan dengan sesama

Kualitas agama seseorang juga tercermin dari hubungannya dengan sesama manusia. Ibadah ritual yang rajin namun buruk dalam hubungan sosial menunjukkan pemahaman agama yang belum utuh. Islam adalah agama yang menyeimbangkan habluminallah dan habluminannas.

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Ali Imran: 31)

Nabi Muhammad Saw dipuji bukan hanya karena ibadahnya, tetapi karena akhlaknya yang agung.

إِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.(QS. Al-Qalam: 4)

Akhlak yang baik lahir dari kesadaran bahwa manusia diperintahkan untuk berbuat baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya.

وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ

berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu (QS. Al-Qashash: 77)

Rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebaikan. Kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas menjadi sebab turunnya kasih sayang dan pertolongan Allah dalam hidup seorang hamba.

إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌۭ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Sesungguhnya rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-A‘raf: 56)

Setiap kebaikan yang dilakukan sejatinya akan kembali kepada pelakunya sendiri. Islam menegaskan bahwa amal baik tidak pernah sia-sia dan selalu berbuah kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat.

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

Jika kamu berbuat baik, maka (kebaikan) itu untuk dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu kembali kepadamu. (QS. Al-Isra: 7)

Sya’ban dan Integritas sebagai Amanah dari Allah

Menjalankan Amanah

Sya’ban juga menjadi bulan refleksi integritas dan amanah. Amanah adalah tanggung jawab besar yang ditolak langit dan bumi, namun diterima oleh manusia.

إِنَّا عَرَضْنَا ٱلْأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا ٱلْإِنسَٰنُ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh. (QS. Al-Ahzab: 72)

Menyampaikan Amanah

Amanah juga bermakna keharusan menyampaikan hak kepada pemiliknya dan berlaku adil dalam setiap keputusan.

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًا

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nisa: 58)

Islam menegaskan keadilan sebagai pilar ketakwaan. Kebencian maupun rasa cinta tidak boleh menghilangkan objektivitas.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْط

Berlakulah adil karena adil itu lebih dekat kepada takwa.(QS. Al-Ma’idah: 8)

Rasulullah Saw bersabda:

لو فاطمة بنتي سرقت لقطعت يدها

Seandainya Fatimah putriku mencuri, niscaya aku potong tangannya.

Hadis tentang Fatimah menunjukkan keadilan Rasulullah Saw yang tidak pandang bulu. Hukum berlaku sama bagi siapa pun, tanpa melihat status, jabatan, atau hubungan darah. Islam menolak hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah. keadilan adalah amanah dan ciri ketakwaan.

Kecerdasan Spiritual dan Emosional

Kematangan spiritual juga tampak dari kecerdasan emosional, terutama dalam menjaga lisan. Al-Qur’an menegaskan pentingnya berkata baik demi mencegah konflik.

وَقُل لِّعِبَادِى يَقُولُوا۟ ٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ كَانَ لِلْإِنسَٰنِ عَدُوًّا مُّبِينًا

Katakan kepada hamba-hamba-Ku supaya mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (dan benar). Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS. Al-Isra: 53)

Rasulullah Saw bersabda:

فليقل خيرا أو ليصمت

Hendaklah berkata baik atau diam.

Al-Qur’an juga memberikan rumus kesuksesan hidup melalui kesabaran dan salat.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ

Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. (QS. Al-Baqarah: 153)

Sabar adalah ikhtiar lahir, sementara salat adalah ikhtiar batin. Keyakinan tanpa usaha adalah kebodohan, dan usaha tanpa doa adalah kesombongan. Keduanya harus berjalan seimbang.

Syekh Jamaluddin An-Naqsyabandi berkata:

قلبك مع الله ويدك في العمل

Hati bersama Allah, tangan tetap bekerja.”

Kesuksesan itu bersifat ilmiah dan pasti, hanya persoalan waktu. Istiqamah dan konsistensi adalah hal yang lebih utama:

الإستقامة خير من ألف كرامة

Istiqamah lebih baik daripada seribu karamah.

Pada akhirnya, ibadah yang benar akan melahirkan akhlak sosial yang baik. Salat seharusnya menjadi wasilah pencegah kemungkaran.

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ

Sesungguhnya Sholat Mencega perrilaku Keji dan Munkar(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Namun Al-Qur’an juga mengingatkan:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, (QS. Al-Ma’un: 4-5)

Rajin salat saja tidak cukup jika tidak menghadirkan keadilan, kejujuran, dan kepedulian sosial. Inilah bekal utama menyambut Ramadhan dengan jiwa yang matang dan utuh.

Penutup

Sya’ban sebagai ruang evaluasi sebelum Ramadhan tiba, saat iman, amal, dan akhlak diuji untuk disempurnakan. Dengan meluruskan niat, menjaga amanah, memperbaiki hubungan sosial, dan menguatkan integritas, seorang mukmin mempersiapkan diri menyambut Ramadhan bukan sekadar dengan ritual, tetapi dengan kepribadian yang matang dan bertakwa.

Referensi

kajian Dr. Ali Nurdin, MA. di Ma’had Al Qur’an, 29/01/2026