Makna Iqra di era digital menemukan relevansi barunya ketika Surah Al-‘Alaq, khususnya lima ayat pertamanya, dibaca ulang sebagai fondasi peradaban literasi. Ayat-ayat ini bukan sekadar penanda dimulainya risalah kenabian Muhammad saw., melainkan cetak biru peradaban yang meletakkan ilmu, kesadaran, dan tanggung jawab moral sebagai pilar utama kehidupan manusia.
Fondasi Tauhid dalam Literasi: “Bismi Rabbik“
Perintah membaca dalam Al-Alaq tidak berdiri sendiri. Ia diikuti oleh frasa yang mengikat aktivitas intelektual dengan spiritualitas. Berikut teks dan terjemahannya :
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ( العلق/96: 1)
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! (Al-‘Alaq [96]:1)
Dalam pandangan Hamka (1990, jilid 10 hal 8059), perintah “Bacalah!” merupakan batu pijakan utama dalam perkembangan agama yang tidak hanya ditujukan bagi mereka yang mahir secara literasi, tetapi juga bagi jiwa yang jujur seperti Nabi Muhammad saw. yang ummi.
Hamka menekankan bahwa meskipun Nabi tidak pandai membaca teks tertulis, dorongan Malaikat Jibril yang memeluknya hingga tiga kali menjadi bukti bahwa kemampuan membaca baik itu wahyu maupun tanda-tanda alam adalah murni atas qudrat dan iradat Allah.
Di era digital saat ini, hal ini menyadarkan kita bahwa “membaca” bukan sekadar aktivitas teknis menatap layar, melainkan sebuah proses spiritual untuk menangkap kebenaran yang Allah titipkan melalui berbagai perantara ilmu pengetahuan.
Lebih lanjut, Hamka (hal. 8060) menegaskan bahwa dasar dari segala sesuatu yang dibaca haruslah senantiasa dilakukan “dengan nama Allah”. Beliau menjelaskan bahwa Allah yang menciptakan manusia dari segumpal darah adalah Tuhan yang sama yang memberikan martabat melalui pengajaran dengan qalam (pena).
Prinsip ini menjadi filter moral yang krusial di tengah banjir informasi digital; tanpa landasan “atas nama Allah,” ilmu pengetahuan dan akses informasi yang luas justru dapat menjerumuskan manusia pada kesombongan. Oleh karena itu, bagi seorang Muslim, setiap konten yang dikonsumsi atau dibagikan harus menjadi sarana untuk membuka “perbendaharaan Allah” yang membawa maslahat, bukan justru memicu kerusakan atau menjauhkan diri dari nilai-nilai ketuhanan.
Membaca Alam dan Diri: Dari Segumpal Darah ke Teknologi
خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ٢ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ٣ ( العلق/96: 2-3)
Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia (Al-‘Alaq [96]:2-3)
M. Quraish Shihab dalamTafsir Al-Misbah (2001, Vol 15 hal 397)menjelaskan bahwa Surah al-‘Alaq ayat 2 mengajak manusia merenungkan asal-usulnya dari ‘alaq (sesuatu yang menempel), yang secara biologis menggambarkan ketergantungan mutlak makhluk kepada Sang Pencipta sejak dalam rahim.
Kesadaran akan asal-usul yang rendah ini merupakan pondasi penting bagi digital humility; bahwa di balik kecanggihan algoritma dan kecerdasan buatan, hakikat manusia tetaplah sosok yang ringkih. Teknologi, dalam pandangan ini, hanyalah alat bagi makhluk yang aslinya sangat bergantung, sehingga tidak sepatutnya perkembangan dunia digital membuat manusia merasa berkuasa penuh dan melupakan sisi kemanusiaannya.
Keterbatasan manusia tersebut kemudian disempurnakan oleh Allah pada ayat 3 melalui perintah Iqra’ yang kedua dan penyifatan Allah sebagai Al-Akram (Maha Pemurah). Menurut Quraish Shihab (2001, Vol 15 hal 399), ayat ini merupakan janji bahwa melalui aktivitas membaca dan menelaah yang berulang-ulang, Allah akan menganugerahkan manfaat, wawasan, serta penemuan baru yang tiada terhingga.
Dalam era teknologi, kemajuan ilmu pengetahuan adalah bentuk kemurahan Allah yang memberikan puncak-puncak pemahaman kepada manusia. Oleh karena itu, setiap inovasi teknologi seharusnya dipandang sebagai karunia dari Yang Maha Pemurah, yang menuntut manusia untuk menggunakannya dengan penuh rasa syukur dan tanggung jawab, bukan dengan kesombongan.
Kenyataan biologis ini seharusnya melahirkan kerendahan hati digital (digital humility). Di saat manusia mampu menciptakan algoritma yang canggih dan kecerdasan buatan, ia tidak boleh lupa bahwa hakikat eksistensinya berasal dari sesuatu yang rendah dan sangat bergantung pada pencipta-Nya. Teknologi sehebat apa pun tidak seharusnya membuat manusia merasa menjadi “tuhan” di dunia maya.
Pena sebagai Jembatan Peradaban
الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ٤ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ٥ ( العلق/96: 4-5)
Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-‘Alaq [96]:4-5)
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān (1964, jilid 20 hal 122) menjelaskan bahwa ayat “Yang mengajar dengan pena” merupakan bentuk kesempurnaan kemuliaan Allah yang memindahkan manusia dari kegelapan kebodohan menuju cahaya ilmu. Beliau menegaskan bahwa pena adalah instrumen utama yang membuat agama menjadi tegak dan kehidupan menjadi teratur; karena tanpanya, ilmu tidak akan terdokumentasi dan hikmah tidak akan terikat.
Dalam konteks ini, Al-Qurthubi mengklasifikasikan pena ke dalam tiga tingkatan filosofis: pertama, Pena Takdir yang diciptakan Allah untuk menuliskan segala ketetapan-Nya; kedua, Pena Malaikat yang digunakan untuk mencatat amal manusia dan ketiga, Pena Manusia yang diletakkan di tangan kita untuk menyambung kemaslahatan dan menyampaikan kebenaran.
Di era digital, makna “Pena Manusia” telah bertransformasi menjadi perangkat teknologi, namun fungsinya sebagai jembatan ilmu tetap tidak berubah. Memaknai kembali perintah membaca (Iqra’) di era ini berarti kita harus menyadari bahwa perangkat digital di tangan kita adalah amanah “pena” ketiga yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Sebagaimana pesan Rasulullah saw untuk “mengikat ilmu dengan tulisan“, kita dituntut untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi yang pasif, melainkan subjek produktif yang menggunakan “pena digital” ini untuk mendokumentasikan kebaikan. Dengan demikian, teknologi bukan lagi sekadar alat hiburan, melainkan sarana penyempurna nikmat Allah dalam mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya demi kemaslahatan umat.
Strategi “Iqra” di Era Big Data
Menerapkan semangat Surat Al-Alaq di masa kini berarti mentransformasi kemampuan literasi menjadi Digital Literacy yang berbasis wahyu. Terdapat beberapa prinsip utama yang dapat diambil:
Pertama, Integrasi Tauhid (QS. Al-Alaq: 1), yaitu menggunakan akses internet hanya untuk hal-hal yang mendatangkan rida Allah. Kedua, Verifikasi atau Tabayyun (QS. Al-Alaq: 4), yaitu menggunakan instrumen digital untuk memastikan kebenaran data dan melakukan cek fakta sebelum menyebarkannya. Ketiga, Rendah Hati (QS. Al-Alaq: 2), dengan menyadari asal-usul manusia agar tidak terjebak dalam kesombongan popularitas. Keempat, Kewaspadaan (QS. Al-Alaq: 6), yakni menjaga diri dari sikap merasa paling tahu yang sering memicu perdebatan sia-sia di ruang publik digital.
Penutup: Mencari Gua Hira di Dunia Maya
Surat Al-Alaq diturunkan di Gua Hira, tempat yang jauh dari kebisingan kota untuk melakukan kontemplasi atau tahannuts. Makna Iqra di era digital ini menjadi Pelajaran penting bahwa membaca yang berkualitas membutuhkan ruang tenang dan kejernihan jiwa.
Membaca adalah perintah pertama karena melalui membacalah manusia mengenal Rabb-nya. Jika aktivitas digital saat ini justru menjauhkan manusia dari Allah, maka perintah “Iqra” tersebut belum benar-benar dijalankan. Mari jadikan setiap guliran layar kita sebagai sarana tafakur, dan setiap ketikan sebagai saksi kebaikan di akhirat kelak.
Wallahu A’lam
Referensi
Abdul Malik Abdulkarim Amrullah. 1990. Tafsir Al-Azhar. Pustaka Nasional PTE LTD Singapura.
M. Quraish Shihab. 2001. Tafsir Al Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al Qur’an. Pertama. Vol. 15. Lentera Hati.
Muḥammad ibn Aḥmad al-Anṣārī al-Qurṭubī. 1964. al-Jāmi‘ li-Aḥkām al-Qur’ān. Pertama. Dār al-Kutub al-Miṣriyyah.

Muhammad Nabil Husain | Founder Teras Afkar, mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta, alumni Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon.

