Di Indonesia, bulan Desember sering kali membawa atmosfer yang unik. Di satu sisi, kita melihat kemeriahan lampu warna-warni dan pohon cemara di pusat perbelanjaan, namun di sisi lain, ruang digital kita kerap memanas oleh debat tahunan mengenai hukum ucapan selamat atau batasan toleransi. Di tengah riuh rendah tersebut, kita sering kali lupa untuk kembali ke inti subjeknya: Nabi Isa dalam Al-Qur’an bukan hanya figur teologis tapi sosok Isa Al-Masih (Yesus Kristus) kehadirannya justru membawa misi kedamaian universal.
Sebagai bangsa dengan populasi Muslim terbesar, memahami sosok Nabi Isa melalui kacamata Al-Qur’an bukan sekadar upaya toleransi, melainkan bagian dari keimanan. Secara kuantitatif menurut Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi dalam kitabnya al-Mu‘jam al-Mufahras (2006, hal 495) bahwa Al-Qur’an menyebut nama “Isa” sebanyak 25 kali, jauh lebih banyak dibanding penyebutan nama Nabi Muhammad SAW secara eksplisit. Hal ini menunjukkan betapa sentralnya jejak batin Nabi Isa dalam sejarah kenabian Islam.
Nabi Isa dalam Al-Qur’an dan Kelahiran yang Diberkati
Pesan perdamaian Nabi Isa dimulai sejak detik pertama beliau menghirup udara dunia. Al-Qur’an mengabadikan momen ini dengan sangat indah dalam Surah Maryam ayat 33:
وَالسَّلٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ وَيَوْمَ اَمُوْتُ وَيَوْمَ اُبْعَثُ حَيًّا
Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan hari aku dibangkitkan hidup (kembali) .(Maryam[19]:33)
Ayat ini adalah deklarasi Salam (damai/sejahtera) yang diucapkan langsung oleh Nabi Isa saat masih di dalam ayunan untuk membela kehormatan ibundanya, Maryam.
Mufassir klasik kenamaan, Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-Azhim (2010, jilid 5 hal 226), menekankan bahwa Ungkapan ini merupakan penghambaan Nabi Isa kepada Allah, bahwa ia tidak lain hanyalah makhluk ciptaan-Nya. Ia mengalami kehidupan, kematian, dan kebangkitan sebagaimana makhluk lainnya. Namun, Allah menganugerahkan kepadanya keselamatan dalam fase-fase tersebut, yang justru merupakan saat-saat paling berat dan menentukan bagi para hamba.
Senada dengan itu, Imam At-Thabari dalam Jami’ al-Bayan (1996, jilid 18 hal 193) menafsirkan bahwa pada ayat tersebut Allah memberikan perlindungan khusus kepada Nabi Isa pada tiga fase paling berat dalam hidup manusia: kelahiran, kematian, dan kebangkitan. Perlindungan ini menjaga beliau dari gangguan setan, kedahsyatan sakaratul maut, serta keguncangan Hari Kiamat, sekaligus menegaskan kedudukannya sebagai hamba Allah yang dimuliakan..
Bergeser ke era modern, Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah (2001, Vol 8 hal 163) memberikan penekanan yang lebih kontekstual bagi kita di Indonesia. Beliau menjelaskan bahwa penyebutan salam atau selamat pada hari kelahiran Nabi Isa menunjukkan bahwa kehadiran beliau adalah rahmat bagi seluruh manusia. Kelahiran Nabi Isa harus dimaknai sebagai titik tolak untuk menebar kedamaian (peace-making) di bumi. Menurut Quraish Shihab, menghargai momen kelahiran Nabi Isa berarti menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang beliau perjuangkan.
Dalam perspektif yang lebih luas, mufassir kontemporer asal Lebanon, Sayyid Muhammad Husain Tabataba’i dalam Tafsir al-Mizan (1997, jilid 14 hal 47) menyoroti bahwa kalimat Nabi Isa dalam ayat tersebut merupakan antitesis dari kekerasan. Beliau lahir untuk menjadi sosok yang santun (barran bi-walidati) dan tidak sombong lagi celaka (jabbaran syaqiyya). Ini adalah kritik terhadap segala bentuk penindasan yang mengatasnamakan agama.
Jejak Damai Nabi Isa dalam Hadis
Nabi Isa tidak hanya dikenal melalui kelahirannya yang ajaib, tetapi juga melalui misinya sebagai penyembuh dan pembawa berita gembira. Al-Qur’an menggambarkan beliau sebagai sosok yang menyembuhkan orang buta, menyembuhkan penyakit kusta, hingga menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Semua mukjizat ini bersifat menghidupkan dan memperbaiki, bukan menghancurkan.(Abu Zahrah Muhammad, t.t., hal 293)
Hal ini diperkuat dalam literatur hadis diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (2001, jilid 4 hal 167)hadis nomor 3443. Rasulullah SAW bersabda:
أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى بْنِ مَرْيَمَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ
“Aku adalah orang yang paling dekat (paling berhak) dengan Isa putra Maryam di dunia dan di akhirat. Para nabi itu bersaudara seayah, ibu-ibu mereka berbeda-beda, tetapi agama mereka satu.”
Pernyataan Rasulullah bahwa beliau adalah yang paling dekat dengan Nabi Isa menunjukkan ikatan batiniah yang luar biasa. Hadis ini seharusnya menjadi fondasi bagi umat Islam di Indonesia untuk memandang pengikut Nabi Isa dengan semangat persaudaraan, bukan permusuhan.
Imam Al-Qurtubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (1964, jilid 4 hal 96) menjelaskan bahwa Nabi Isa datang untuk menghalalkan sebagian yang sebelumnya diharamkan bagi Bani Israil sebagai bentuk keringanan dan kasih sayang Tuhan. Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya al-Adab wa az-Zuhd (2009, jilid 20 hal 453) menerangkan bahwa Jejak damai Nabi Isa dalam tafsir klasik sering dikaitkan dengan sifatnya yang zuhud. Beliau digambarkan sebagai nabi yang tidak memiliki rumah dan harta, fokus sepenuhnya pada pembersihan hati. Inilah perdamaian batin (inner peace) yang menjadi teladan bagi para sufi.
Di Indonesia, di mana kemajemukan adalah takdir, menelusuri jejak damai Nabi Isa berarti meneladani sikap beliau yang inklusif. Nabi Isa dalam Al-Qur’an disebut sebagai “Ruhun minhu” (Ruh dari-Nya) dan “Kalimatuhu” (Kalimat-Nya). Ini menunjukkan kedekatan ontologis manusia dengan Tuhan yang seharusnya berimplikasi pada kedekatan antarsesama manusia.
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar (1990, jilid 16 hal 4290) memberikan catatan menyentuh. Beliau mengajak umat untuk melihat sosok Maryam dan Isa sebagai simbol kesucian. Hamka menekankan bahwa meskipun ada perbedaan akidah dalam memandang sosok Nabi Isa, hal itu tidak boleh menghilangkan rasa hormat dan kasih sayang antarmanusia. Kedamaian yang dibawa Isa adalah kedamaian yang membalut luka sosial.
Menjemput Pesan Damai Nabi Isa dalam Al-Qur’an
Menatap Natal dengan hati yang sejuk berarti berhenti sejenak dari perdebatan teologis yang melelahkan dan mulai merenungi pesan moral dari sosok yang dilahirkan ke dunia sebagai “tanda bagi manusia dan rahmat dari Kami” (QS. Maryam [19]: 21).
Bagi masyarakat Indonesia, jejak damai Nabi Isa di Al-Qur’an adalah modal sosial yang besar. Kita tidak harus menjadi sama untuk bisa hidup berdampingan. Nabi Isa mengajarkan bahwa perdamaian dimulai dari kata-kata yang lembut, penyembuhan bagi yang sakit, dan keberpihakan pada yang lemah.
Jika Nabi Isa adalah pribadi yang dipenuhi Salam sejak lahir hingga kebangkitannya, maka sudah sepatutnya kita yang membicarakan beliau juga menebarkan salam dan keselamatan bagi tetangga, teman, dan saudara sebangsa kita, apa pun keyakinan mereka. Mari jadikan momentum ini untuk mendinginkan suhu sosial dan mempererat tenun kebangsaan dengan hati yang lapang.
Waallhu A’lam
Referensi
Abdul Malik Abdulkarim Amrullah. 1990. Tafsir Al-Azhar. Pustaka Nasional PTE LTD Singapura.
Abū ‘Abd Allāh, Muḥammad ibn Aḥmad al-Anṣārī al-Qurṭubī. 1964. al-Jāmi‘ li-Aḥkām al-Qur’ān. Pertama. Dār al-Kutub al-Miṣriyyah.
Abū ‘Abdillāh Aḥmad bin Ḥanbal. 2009. al-Adab wa az-Zuhd. Pertama. Dār al-Fallāḥ.
Abū ‘Abdillāh, Muḥammad bin Ismā‘īl bin Ibrāhīm bin al-Mughīrah bin Bardizbah al-Bukhārī. 2001. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Pertama. Dār Ṭawq an-Najāh.
Abū Ja‘far, Muḥammad ibn Jarīr al-Ṭabarī. 1996. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Pertama. Dār al-Tarbiyah wa al-Turāṡ.
Abu Zahrah Muhammad. t.t. Al-Mu‘jizah al-Kubrā: al-Qur’ān. Dar al-Fikr al-‘Arabi.
Ibn Kathīr. 2010. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Pertama. Dār Ibn al-Jawzī.
M. Quraish Shihab. 2001. Tafsir Al Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al Qur’an. Pertama. Vol. 2. Lentera Hati.
Muḥammad Fu’ād ‘Abd al-Bāqī. 2006. al-Mu‘jam al-Mufahras li-Alfāẓ al-Qur’ān al-Karīm. Dār al-Kutub al-Miṣriyyah.
Muḥammad Ḥusayn al-Ṭabāṭabā’ī. 1997. Tafsir Al Mizan. Muʾassasat al-Aʿlamī.

Muhammad Nabil Husain | Founder Teras Afkar, mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta, alumni Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon.


One thought on “Melihat Natal dengan Hati Sejuk: Menelusuri Jejak Damai Nabi Isa di QS. Maryam [19]:33”
Comments are closed.