Anti Galau Ala Al-Qur’an: Tadabbur QS Ali ‘Imran [3]: 139 Sebagai Penawar Kegelisahan Jiwa Modern

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia seiring berjalannya waktu tak selamanya apa yang diharapkan selalu menjadi kenyataan, bahkan sebaliknya. kondisi ini yang membuat ia merasa cemas, ragu, bimbang, hingga menimbulkan depresi. Istilah penamaan kondisi tersebut di era modern ini ialah galau. Tesa Maulana mengungkapkan, peristiwa ini terjadi pada seseorang yang berusia 18-29 tahun (Maulana 2022:1).

Dalam masa usia demikian, faktor yang menjadikan seseorang galau disebabkan banyaknya tuntutan dari luar, juga dorongan dalam diri sendiri, sehingga hal ini dapat membuat emosionalnya tidak stabil (Maulana 2022:1). Kondisi ini juga dinamakan Distress yaitu stress yang menimbulkan efek membahayakan bagi individu yang mengalaminya, sehingga membuatnya mudah jatuh sakit (Hasanah and Islam 2019:3).  

Ikhwan Fuad mengutip dari sebuah penelitian, lebih dari separuh pasien yang menjalani perawatan inap di sebuah rumah sakit Amerika Serikat, terisi oleh pasien yang mengalami gangguan mental (Fuad 2019:2) Maka dari itu pentingnya menjaga kesehatan mental, sebab mental yang sehat mampu menghadapi realitas hidup, selalu merasa bahagia, dan memiliki jiwa yang tentram.

Dalam membahas seputar kejiwaan, terkadang ilmuan dan pisikiater hanya memperhatikan aspek biologis dan sosial, tidak banyak yang mengarah pada dimensi spiritual. Menurut Ikhwan Fuad, mengabaikan pada aspek spiritual menyebabkan kurang sempurnanya pemahaman pada diri manusia, karena dalam pemahaman spiritual, didorong untuk menjadi pribadi yang memiliki integritas (Fuad 2019:3).

Hubungan Aspek Spiritual Terhadap Kesehatan Mental

Carl Gustav Jung menemukan pasien yang sembuh dari gangguan mental setelah ia mengenal agama dan tuhannya. Menunjukkan bahwa pengaruh spiritual juga dapat menimbulkan energi yang positif, secara fisik maupun pisikologis. Maka dengan jiwa spiritual yang kuat dan selalu taat, dapat membawanya pada penyesuaian diri (menerima takdir) serta meraih kepada sesuatu yang telah dianugerahkan oleh Tuhan (Azania and Naan 2021:6&9)

Hakikat dari ilmu jiwa yang spiritualis, menjelaskan bagaiman keyakinan dan pengamalan keagamaan memberikan dampak terhadap pikiran, perasaan, dan perilaku individu (Sudirman 2022:5–6). Artinya dalam praktik-praktik spiritual (keagamaan), memiliki simbol yaitu kedamaian serta mempengaruhi moral menjadi baik, sehingga individu yang menghayati pengamalan ini dapat mencapai puncak kebahagiaan.

Solusi Terhadap Jiwa Yang Galau Perspektif Penafsiran QS Ali ‘Imran: 139

Allah SWT berfirman;

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ۝١٣٩

Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin.

Sabab Nuzul

Ayat ini turun saat peristiwa perang Uhud, pada kejadian itu, para mujahidin mengalami kekalahan dan penderitaan yang pedih, banyak sahabat yang mengalami luka-luka, penuh darah, dan dikejar oleh musuh. Rasulullah SAW tetap memerintahkan mereka untuk mengejar pasukan Quraisy, agar musuh tidak menyerang kembali. Perintah ini sangat terasa berat bagi sahabat disebabkan kondisi mereka saat itu.

Dalam suasana tersebut, Allah SWT menurunkan ayat ini sebagai peneguh jiwa, dan sentuhan Ilahi yang menguatkan hati yang hampir runtuh (Al-Khazzan 1415:301 J: 1).

Kajian Bahasa Dan Penafsiran Ayat

Kata تَهِنُوْا  berasal dari kata al-wahn dengan sukun pada huruf ha atau dapat membacanya dengan kata wahana (menjadi kata kerja) yang artinya ialah kelemahan. Dan kelemahan disini merujuk secara fisik, seperti firman Allah SWT tentang Zakaria AS dalam QS Maryam: 4, “wahai tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah”. Maksudnya ialah “tubuhku tidak mampu” (Thanthawi 1998:272 J: 2).

Kata تَحْزَنُوْا berasal dari kata huzn, yaitu rasa sakit batin yang menimpa seseorang ketika kehilangan sesuatu yang ia cintai atau ketika ia tidak berhasil meraih sesuatu yang ia inginkan, atau ditimpa suatu perkara yang menimbulkan kegelisahan dan kecemasan dalam jiwa (Thanthawi 1998:272 J: 2).

Dan kalimat وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا merupakan larangan yang berbentuk I’tinas, yaitu larangan yang mempunyai makna untuk menghibur atau memberikan ketenangan terhadap lawan bicara. Pada ayat ini dijelaskan, agar kaum Muslimin tidak berlaku lemah serta menyerah terhadap penderitaan yang sangat pahit (Umami 2023:13).

وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ  dijelaskan bahwa para muslimin itu merupakan orang-orang yang tinggi derajatnya disisi Allah SWT di dunia (karena apa yang telah kamu perjuangkan itu merupakan kebenaran) dan di akhirat (karena kamu mendapat ganjaran surga). Mengapa kamu bersedih sedang yang gugur diantara kamu menuju surga dan yang luka mendapatkan ampunan dari sang Ilahi (Shihab 2016:227 J: 1)

Al-Maturidi menafsirkan وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ “dan kalianlah yang paling tinggi” maksudnya ialah yang terbunuh dari kalian mendapatkan derajat sebagai syuhada dan selalu hidup disisi Allah, sedangkan mereka (para musuh) orang yang mati (Al-Maturidi 14426:491 J: 2).

Al-Qurtubi menafsirkan, bahwa ayat ini merupakan sebuah penyemangat kepada kaum Muslimin agar tidak takut dan pantang mundur terhadap musuh-musuh hanya karena musibah yang menimpa mereka (Al-Qurtubi 1964:216 J: 4).

Ayat ini juga merupakan sebuah isyarat bahwa siapa pun yang beriman, tidak pantas ia menjadi lemah hanya karena musibah yang menimpanya didunia. Ia wajib mengontrol jiwanya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan, dan menyadari bahwa hakikatnya individu yang beriman memiliki kedudukan yang mulia disisi Allah SWT, serta meyakini bahwa kemenangan serta harapan pasti tercapai baginya (Al-Wahidi 1430:8 J: 6).

Thantawi menjelaskan bahwa al-wahn (lemah) merupakan majaz (kiasan), untuk;

  1. Luluhnya tekad.
  2. Berubahnya harapan menjadi putus asa.
  3. Berubahnya keberanian menjadi rasa takut.
  4. Berubahnya keyakinan menjadi keraguan.

Maka ayat ini memberikan arahan bagi orang yang beriman, agar menjauhi dari Tindakan-tindakan tersebut, karena perilaku ini dapat menjadikan individu merasa sedih yang berlarut hingga menimbulkan kelemahan (Thanthawi 1998:272 J: 2).

Al-Ashfahani menafsirkan, bahwa larangan itu hakikatnya tertuju pada perbuatan-perbuatan yang menimbulkan keadaan tersebut. Yakni; (Al-Ashfahani 1424:874-875 J: 3).

  1. Ketika seseorang tidak memiliki kesadaran hakikat dunia (tidak abadi).
  2. Tidak mengetahui bahwa semua yang dimiliki selama didunia hanyalah titipan.
  3. Tidak mampu menahan gangguan kecil yang menimpanya.

Kontektualisasi Ayat

Maksud ayat ini bertujuan untuk mendidik menjadi pribadi yang dapat mengontrol diri dari berbagai tekanan yang dihadapi. Sebab dengan cara pandang yang baik dan benar dapat membuat mental yang sehat, sebaliknya juga, jika salah dalam memandang suatu persoalan dapat menimbulkan energi yang negatif hingga membuat kesengsaraan (Khadavi 2023:25).

Dengan dorongan spiritual, manusia akan menjadi pribadi yang berintegritas dan dinamis (Jaenuddin et al. 2024:11), sehingga hal-hal negatif dapat dikontrol oleh seseorang dengan iman nya. Dengan kekuatan iman, seseorang dapat memiliki spirit yang menompakan semangat, motivasi dan ghirah untuk selalu berbuat baik, baik untuk diri sendiri maupun orang lain (Andriani, Mardiah, and Hakim 2020:5)

Nilai-nilai yang dapat diambil dari penafsiran ayat ini, yakni;

  1. Mengajarkan agar menjadi pribadi yang tangguh dari berbagai musibah yang dialami.
  2. Memberikan kesadaran akan hakikat kehidupan dunia yang fana.
  3. Dengan keimanan, dapat mengontrol jiwa dari berbagai persoalan yang dihadapi.

Maka dalam menerima (ditimpa oleh musibah) atau menginginkan (harapan yang ingin dicapai), diperlukan untuk memahami hakikat kehidupan (bahwa segala yang didapatkan tidak selamanya abadi). Hal tersebut dapat dijalankan bagi jiwa yang melekat pada aspek spiritual, karena tujuan dari pengamalannya mencari kebahagiaan serta ketenangan pada batin seseorang.

Dengan menghayati maksud dan tujuan QS Ali ‘Imran: 139, merupakan salah satu pengamalan spiritual yang menjadikan motivasi bagi umat Muslim saat ini. Seperti yang diungkapkan Al-Wahidi dalam menafsirkan ayat ini bahwa sejatinya orang yang beriman memiliki kemuliaan disisi Allah SWT. Artinya bahwa dengan keimanan, setiap perbuatan kebaikan tidak akan sia-sia baginya.

Daftar Pustaka

Al-Ashfahani, Husain bin Muhammad. 1424. Tafsir Al-Raghib Al-Ashfahani. Riyadh: Dar Al-Wathan.

Al-Khazzan, ’Alauddin ’Ali bin Muhammad. 1415. Lubab Al-Ta’wil Fii Ma’anii Al-Tanzil. Beirut: Dar Al-Kutb Al-’Ilmiyah.

Al-Maturidi, Abu Mansur Muhammad bin Muhammad. 14426. Tafsir Al-Maturidi Ta’wilat Ahli Al-Sunnah. Beirut: Dar Al-Kutb Al-’Ilmiyah.

Al-Qurtubi, Abu ’Abdullah Muhammad ibn Ahmad al-Anshari. 1964. Jami’ Al-Ahkam Al-Qur’an. Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah.

Al-Wahidi, ’Ali bin Ahmad. 1430. Al-Tafsir Al-Basith. Riyadh: Universitas Muhammad bin Sa’ud.

Andriani, Mardiah, and Hakim. 2020. “Respon Al-Qur’an Terhadap Kekalahan Kaum Muslimin Dalam Perang Uhud (Kontekstualisasi QS. Ali ’Imran: 139-142) Seruan Bangkit Dari Kekalahan.” 1:136–50.

Azania, Desti, and Naan. 2021. “Peran Spiritual Bagi Kesehatan Mental Mahasiswa Di Tengah Pandemi Covid-19.” 7(1):26–45. doi: https://doi.org/10.36835/humanistika.v7i1.384.

Fuad, Ikhwan. 2019. “Menjaga Kesehatan Mental Perspektif Al- Qur ‟ an Dan Hadits.” 31–50.

Hasanah, Muhimmatul, and Psikoterapi Islam. 2019. “Stres Dan Solusinya Dalam Perspektif Psikologi Dan Islam.” XIII(1):104–16.

Jaenuddin, Al-Fajar, Nahar, and Hasanah. 2024. “Urgensi Dan Signifikansi Spiritualitas Dalam Pendidikan Karakter The Urgency and Significance of Spirituality in Character Education.” (76). doi: https://doi.org/10.61227/arji.v6i2.167.

Khadavi, Muhammad Jadid. 2023. “Spiritual Mental Development Concept and the Implications for Students Konsep Pembinaan Mental Spiritual Dan Implikasinya Bagi Peserta Didik.” 7(1). doi: 10.21070/halaqa.v7i1.1624.

Maulana, Tesa. 2022. “Konsep Anti-Galau Dalam Al- Qur’an (Kajian Semantik Khauf Dan Huzn ).” Universitas Islam Negri Saifuddin Zuhri Purwokerto.

Shihab, M. Quraish. 2016. Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, Dan Keserasian Al-Qur’an. Volume 3. Tanggerang: Lentera Hati.

Sudirman. 2022. “Menjelajahi Dimensi Batin: Tasawwuf Dan Ketertarikannya Dengan Ilmu Jiwa Agama.” 9(September):780–89.

Thanthawi, Muhammad Sayyid. 1998. Al-Tafsir Al-Washith Lii Al-Qur’an Al-Karim. Cairo: Dar Nahdhah Misr.

Umami, Emma Asyirotul. 2023. “Kajian Semantik: Analisis Ragam Makna ‘Jangan’ Pada QS. Ali ’Imran.” 10:266–82. doi: https://doi.org/10.58518/madinah.v10i2.1936.