Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan materialistis, istilah barakah sering terdengar namun pemahamannya masih cukup terbatas. Banyak orang menganggap barakah hanya sekadar rezeki yang lebih atau hanya sekadar keberuntungan semata.
Padahal dalam al-Qur’an barakah memiliki makna yang lebih luas dan mendalam, karena barakah mencakup semua aspek kehidupan manusia.
Berikut redaksi ayat dan terjemahnya dari surah QS. al-A‘rāf [7]: 96,
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.”
Quraish Shihab dalam Tafsīr al-Miṣbāḥ menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan hukum sebab–akibat yang berlaku dalam kehidupan manusia. Allah menyatakan bahwa iman dan takwa merupakan sebab utama turunnya keberkahan, baik dari langit maupun dari bumi. (Tafsīr al-Miṣbāḥ, Hal 182)
Ayat ini menjadi landasan teologis bahwa keberkahan hidup tidak datang dengan sendirinya, melainkan berkaitan erat dengan kualitas iman dan ketakwaan manusia.
Makna Barakah dalam al-Qur’an
Ibnu Faris dalam Mu‘jam Maqāyīs al-Lughah menjelaskan bahwa suatu kata yang terdiri dari huruf ba’, ra’, dan kāf (برك) berasal dari satu akar makna, yaitu keteguhan atau tetapnya sesuatu (tidak berpindah, tidak bergeser). Barakah maknanya adalah tambahan dan pertumbuhan (Mu‘jam Maqāyīs al-Lughah, Jilid 1, Hal 227-230)
Ibnu Manzur dalam Lisān al-‘Arab mengartikan lafaz baraka adalah pertumbuhan dan peningkatan (kemajuan dan bertambahnnya kebaikan). Kemudian lafaz barakah maknanya kebahagiaan. ( Lisān al-‘Arab, Hal 335)
Al-Rāghib al-Aṣfahānī dalam Al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān mejelaskan baraka artinya dada unta dan al-barakah berarti menetapnya kebaikan ilahiah dalam sesuatu (Al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān, Hal 274)
Barakah memiliki beragam penggunaan makna dalam al-Qur’an dan tradisi keislaman. Baraka menunjukkan tindakan Allah menjadikan sesuatu sebagai wadah turunnya kebaikan, tabāraka menegaskan kekhususan dan keagungan Allah sebagai satu-satunya sumber segala kebaikan.
Barakāt merujuk pada kebaikan Ilahi yang melimpah, sedangkan mubārak menunjuk pada sesuatu yang diberi dan mengandung kebaikan tersebut. (Al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān, Hal 119-120)
Ragam penggunaan diatas menegaskan bahwa barakah bukan hanya sekadar “pertambahan” dalam arti kuantitas, tetapi menunjuk pada kebaikan ilahiah yang bersifat stabil, berkelanjutan, dan produktif.
Barakah mengandung unsur keteguhan, pertumbuhan, dan keberlanjutan nilai yang dampaknya tidak selalu materi, melainkan tercermin pada dampak positif yang terus hidup dan memberi manfaat.
Kontekstualisasi Makna Barakah Perspektif al-Zamakhsyarī
Al-Zamakhsyarī dalam Tafsir Al-Kasysyāf menempatkan barakah sebagai konsekuensi langsung dari iman dan takwa, Lafaz fataḥnā ‘alayhim barakātin mina al-samā’i wa al-arḍ yang menunjukkan terbukanya dan melimpahnya kebaikan yang Allah anugerahkan secara luas kepada suatu masyarakat ketika iman dan takwa menjadi dasar kehidupan mereka. (Al-Kasysyāf ‘an Ḥaqā’iq al-Tanzīl, 375)
Al-Zamakhsyarī mengibaratkan pemberian berkah Allah seperti seorang guru yang membantu muridnya saat sedang kesulitan membaca. Bayangkan seorang murid yang sedang mengeja sebuah teks, namun ia mendadak terhenti karena lidahnya kelu atau teks tersebut terlalu sulit baginya. (Al-Kasysyāf ‘an Ḥaqā’iq al-Tanzīl, 376)
Kondisi “terhenti” ini adalah simbol dari kehidupan manusia yang sedang buntu, sulit, atau penuh krisis. Dalam situasi sulit tersebut, sang guru kemudian melakukan talaqqīn (mendiktekan atau memberikan bisikan kata yang benar) sehingga murid tersebut bisa lancar membaca kembali.
Dalam konteks kehidupan saat ini, penafsiran ini sangat relevan untuk membaca krisis yang dihadapi masyarakat modern. Kemajuan teknologi, ekonomi dan kekuatan sistem sosial sering membuat manusia merasa aman dan berkuasa.
Padahal, sebagaimana diingatkan ayat ini, rasa aman tanpa iman dan takwa justru menjadi awal kehancuran. Kemerosotan moral dan kegelisahan sosial dapat dipahami sebagai tertutupnya “pintu keberkahan”.
Sebagaimana Hadis Qudsi Nabi Muhammad SAW dalam Sunan At-Tirmidzi Juz 4 Hal 252dengan nomor Hadis 2466:
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ زَائِدَةَ بْنِ نَشِيطٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي خَالِدٍ الْوَالِبِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ: «يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي، أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِلَّا تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ) رواه الترمذي(
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Khasyram, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Isa bin Yunus, dari Imran bin Zaidah bin Nasyit, dari ayahnya, dari Abi Khalid al-Walibi, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, luangkanlah waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan atau rasa cukup dan Aku tutup kefakiranmu. Namun jika engkau tidak melakukannya, niscaya Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dalam urusan dunia dan Aku tidak akan menutup kefakiranmu (HR. Tirmidzi).
Tertutupnya pintu kebaikan (اِنْسِدَادُ أَبْوَابِ الْخَيْرِ) terlihat dari kesibukan yang tidak ada habisnya (mala’tu yadayka syughlā) namun tidak membuahkan rasa cukup. Di sinilah letak hilangnya barakah, di mana produktivitas lahiriah tidak berujung pada ketenangan.
Barakah sejatinya mengacu pada kualitas bukan sekadar kuantitas waktu atau harta. Tanpa barakah, manusia mengalami “penyempitan” pintu kebaikan. Usahanya mungkin terlihat besar secara fisik, namun tetap terjebak dalam kegelisahan batin yang tidak kunjung usai.
Rasa cukup adalah curahan Ilahi yang meresap langsung ke dalam hati dari arah yang tak terduga. Di tengah modernitas, pintu kebaikan sering kali tertutup bukan karena kurangnya kerja keras, melainkan karena hilangnya koneksi manusia dengan sumber keberkahan itu sendiri.
Dengan demikian, ayat ini menurut al-Zamakhsyari adalah peringatan bahwa masyarakat yang beriman dan bertakwa akan mendapat jalan kebaikan. Sebaliknya, mereka yang merasa aman dalam kelalaian terancam hancur tiba-tiba tanpa disadari. Iman adalah kunci keselamatan, sementara kesombongan dan kelalaian mengundang kehancuran. Wallāhu a‘lam
Referensi
M. Quraish Shihab, Tafsīr al-Miṣbāḥ: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’ān, Jilid 5 (Jakarta: Lentera Hati, 2002)
Abū al-Ḥusayn Aḥmad ibn Fāris ibn Zakariyyā, Mu‘jam Maqāyīs al-Lughah (Beirut: Dār al-Fikr, 1979)
Ibn Manẓūr, Muḥammad ibn Mukarram, Lisān al-‘Arab (Beirut: Dār Ṣādir, 1993)
Al-Rāghib al-Aṣfahānī, Al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān (Beirut: Dār al-Qalam, 1992)
Al-Zamakhsyarī, al-Kasysyāf ‘an Ḥaqā’iq al-Tanzīl wa ‘Uyūn al-Aqāwīl fī Wujūh al-Ta’wīl, (Beirut: Dār al-Ma‘rifah 2009), Juz 9, Hal. 375-376
Abu ‘Īsā Muḥammad bin ‘Īsā al-Tirmidzi, Al-Jāmi‘ al-Kabīr (Sunan al-Tirmidzī), terj. dan tahqiq oleh Bashār ‘Awwād Ma‘rūf, cet. 1 (Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī, 1996)
Mahasiswa Ilmu Al Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta

