Antara Amanah dan Musibah: Makna Kepemimpinan dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 30

Ketika kepemimpinan sering diperebutkan sebagai simbol prestise, Al-Qur’an justru sejak awal mempertanyakannya. Q.S. Al-Baqarah ayat 30 menghadirkan dialog ilahiah yang menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah besar, yang bisa menjadi berkah atau berubah menjadi musibah bila disalahpahami. berikut ayat dan terjemahanmnya وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ…

Read More

Menebar Kedamaian Bukan Ketakutan: Refleksi Terhadap QS: Ali Imran [3]: 159

Agama hadir untuk menebar kedamaian, namun tidak jarang justru dijadikan pembenaran atas tindakan keras dan kekerasan. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan bukan terletak pada ajaran Islam, melainkan pada cara memahami teks agama yang kaku, egois, dan jauh dari tujuan hakikinya. Memahami Dengan Bijak Bukan Ego Cukup banyak isu mengenai alih-alih mengatasnamakan agama hingga berujung kepada…

Read More

Loyalitas dan Pengabdian: Kajian Tematik Q.S. Al-‘Adiyāt Ayat 1-11 melalui Analogi Kuda Perang

Al-Qur’an tidak selalu membuka nasihat-Nya dengan perintah atau larangan. Terkadang, Allah memulai dengan sebuah adegan sebagaimana Q.S Al Adiyat ayat 1-11, derap kuda perang, napas yang memburu, percikan api dari kuku-kuku yang menghantam bumi, sebuah pemandangan yang sarat makna tentang loyalitas dan kepatuhan. berikut teks dan terjemah Ayat : وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا (١) فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا (٢)…

Read More

Batasan Antara Nashihah dan Ghibah Digital di Media Sosial: Tafsir QS. Al-Hujurat [49]: 6

Dewasa sekarang, Media sosial merupakan suatu ruang publik baru yang tidak memiliki sekat. Pada dasarnya, ini adalah sebuah kemajuan dalam cara berkomunikasi di era modern, akan tetapi timbul masalah baru, seringkali malah kritik ataupun asumsi pribadi berlindung di balik kata “nasihat”, padahal mengandung unsur ghibah (menggunjing) atau bahkan sampai pada tahap namimah (adu domba). Disini…

Read More

Inklusivitas Dakwah: Tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 256 Perspektif Tafsir Al-Misbah

Masyarakat modern ditandai oleh realitas pluralitas, baik dari segi agama, budaya, maupun cara pandang. Kondisi ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi aktivitas dakwah Islam, khususnya ketika dakwah dipahami secara sempit sebagai upaya penyeragaman keyakinan. Pendekatan dakwah yang eksklusif dan koersif berpotensi menimbulkan resistensi sosial serta menjauhkan dakwah dari nilai rahmatan lil ‘alamin. Al-Qur’an sebagai sumber utama…

Read More

Amanah Sebagai Fondasi Kepemimpinan Islam: Analisis Tadabbur Q.S. An-Nisā [4]: 58

Di era globalisasi, kepemimpinan islam sangat menyoroti amanah sebagai fondasi yang kokoh, yang berakar pada al-Qur’an dan Sunnah, amah bukan hanya sekadar etika, tetapi sebagai pilar pembentuk kepemimpinan yang adil dan transparan dalam menghadapi tantangan. Pembahasan merujuk pada Q.S. an-Nisā’ [4]: 58 sebagaimana ayat tersebut menyinggung problematika yang relevan dengan topik pembahasan : اِنَّ اللّٰهَ…

Read More

Ketika yang Kita Benci Justru Menyelamatkan: Tafsir QS. Al-Baqarah [2]:216

Generasi Z hidup di era ketika semuanya serba cepat, diantaranya informasi datang tanpa henti, standar sukses berubah setiap hari, dan apa yang terlihat di media sosial sering membuat hidup orang lain tampak sempurna. Tidak heran banyak para Gen-Z merasa tertekan ketika kenyataan tidak sesuai harapan, seperti gagal masuk kampus tujuan, belum menemukan pekerjaan yang pas,…

Read More

Barakah dalam Perspektif al-Zamakhsyarī: Relevansi QS. al-A‘rāf [7]: 96 bagi Kehidupan Modern

Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan materialistis, istilah barakah sering terdengar namun pemahamannya masih cukup terbatas. Banyak orang menganggap barakah hanya sekadar rezeki yang lebih atau hanya sekadar keberuntungan semata. Padahal dalam al-Qur’an barakah memiliki makna yang lebih luas dan mendalam, karena barakah mencakup semua aspek kehidupan manusia. Berikut redaksi ayat dan terjemahnya dari…

Read More

Etika Bermedia Sosial: Tafsir QS. An-Nisa’ [4]: 148

Di era media sosial, satu kalimat bisa menjadi pembelaan diri atau justru kezaliman baru. Allah Swt. menegaskan dalam QS. An-Nisā’ [4]: 148 bahwa Dia tidak menyukai ucapan buruk yang disampaikan secara terang-terangan, kecuali oleh orang yang dizalimi. berikut ayat dan terjemahnya : لَّا يُحِبُّ ٱللَّهُ ٱلْجَهْرَ بِٱلسُّوٓءِ مِنَ ٱلْقَوْلِ إِلَّا مَن ظُلِمَ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ…

Read More

Makna ‘Wal-Kāẓimīna al-Ghayẓ’ dalam Kehidupan Modern: Tafsir Q.S Al-Imran [3]:134

Di tengah meningkatnya konflik di media sosial, dan maraknya kasus kekerasan yang berakar pada emosi tak terkendali, Al-Qur’an menghadirkan salah satu pedoman moral paling kuat yang tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga sangat aktual tentang pengelolaan amarah. Salah satu ayat dalam QS Ali ‘Imran ayat 134: الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ…

Read More