Kafa’ah: Seni Menyelaraskan Prinsip yang Berbeda

Oplus_131072

Seringkali kita mendengar kalimat manis, “Cinta itu menyatukan perbedaan.” Namun dalam realita pernikahan, cinta saja kadang tak cukup kuat menahan guncangan jika prinsip dasar kita sudah jauh berbeda. Perbedaan yang awalnya terasa kecil, bisa berubah jadi duri yang menyesakkan saat kita mulai hidup satu atap.

Mengenai hal ini, Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (Juz 9, hal. 6735) menjelaskan bahwa dalam tinjauan bahasa, Kafa’ah berarti keserupaan (al-mumatsalah) dan kesetaraan (al-musawah). Seseorang dikatakan sebagai “kufu” bagi orang lain jika ia memiliki kedudukan yang setara atau sepadan. Makna ini selaras dengan sabda Rasulullah Saw: “Kaum muslimin itu setara (tatakafa’) darahnya,” yang menegaskan bahwa dalam Islam, nyawa seseorang memiliki nilai yang sama, tanpa memandang status sosial.

Esensi kesetaraan ini juga ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui firman Allah SWT:

وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ ”

Dan tidak ada sesuatu pun yang setara (kufuwan) dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas[112]: 4).

Dengan demikian, kafa’ah pada dasarnya adalah upaya untuk mencari titik keseimbangan dan kesepadanan di antara manusia. Kebaikan Bertemu Kebaikan Konsep kesepadanan ini juga sejalan dengan firman Allah dalam QS. An-Nur ayat 26:

اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَالْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِۚ وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَالطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِۚ اُولٰۤىِٕكَ مُبَرَّءُوْنَ مِمَّا يَقُوْلُوْنَۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ

Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula) Mereka (yang baik) itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia. (QS. An-Nur [24]: 26)

Ayat di atas merupakan penjelasan dari QS. An-Nur ayat 3:

اَلزَّانِيْ لَا يَنْكِحُ اِلَّا زَانِيَةً اَوْ مُشْرِكَةًۖ وَّالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَآ اِلَّا زَانٍ اَوْ مُشْرِكٌۚ وَحُرِّمَ ذٰلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ

Terkait hal ini, Imam Qurtubi dalam kitabnya Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (1963, Juz 12, hal. 211) menyatakan bahwa dalam ayat tersebut terkandung makna kafa’ah dalam kebaikan. Sederhananya, orang baik akan cenderung berjodoh dengan orang baik, begitupun sebaliknya. Setiap orang pada akhirnya akan bertemu dengan pasangan yang sepadan dengan kualitas dirinya.

Di sinilah Islam menawarkan kafa’ah bukan sebagai aturan kaku yang membeda-bedakan status sosial, melainkan sebagai sebuah seni untuk memastikan dua orang memiliki “frekuensi” yang sama. Agama Sebagai Kompas Utama Dalam menentukan kesepadanan ini, Islam meletakkan nilai spiritual sebagai fondasi yang paling mendasar. Rasulullah Saw memberikan panduan yang sesuai dengan realita melalui sabdanya:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita dinikahi karena empat hal: hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya engkau akan beruntung.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i).

Melalui hadis ini, kita diajak memahami bahwa ketertarikan pada kemapanan ekonomi, latar belakang keluarga, atau fisik adalah hal yang sangat manusiawi. Namun, hal tersebut bersifat dinamis; harta bisa habis dan fisik akan terkikis usia. Menjadikan agama sebagai “Kompas Utama” berarti mencari pasangan yang memiliki standar moral dan arah hidup yang sama.

Pasangan yang sefrekuensi secara spiritual akan memiliki “bahasa” yang sama saat menghadapi ujian hidup. Inilah rahasia keberuntungan yang dimaksud Rasulullah Saw sebuah ketenangan hati karena memiliki teman perjalanan yang tidak hanya searah di dunia, tapi juga sevisi hingga ke akhirat.

penutup Pada akhirnya, membangun rumah tangga bukan sekadar tentang menemukan seseorang untuk tinggal bersama, melainkan menemukan jiwa yang bisa berjalan searah. Kafa’ah hadir bukan untuk membatasi cinta, melainkan untuk melindunginya. Sebab, cinta mungkin menjadi alasan dua orang untuk memulai perjalanan, namun kesepadanan prinsip dan imanlah yang akan memastikan perjalanan itu sampai ke tujuan tanpa harus kehilangan arah.