Dalam kehidupan modern, kebahagiaan sering diidentikkan dengan kekayaan, jabatan, dan popularitas. Namun realitas menunjukkan bahwa tidak sedikit orang yang memiliki segalanya secara materi, tetapi tetap merasa hampa dan gelisah. Islam memandang kebahagiaan sebagai kondisi batin yang lahir dari hubungan harmonis antara manusia dengan Allah SWT.
Sebagaimana ungkapan hikmah:
إن حسن علاقتك بالله من أكبر عوامل نجاحك
“Sesungguhnya baiknya hubunganmu dengan Allah adalah salah satu faktor terbesar kesuksesanmu.”
Ungkapan ini menegaskan bahwa kesuksesan dan kebahagiaan sejati bukan semata hasil kerja manusia, melainkan buah dari kedekatan kepada Allah.
Konsep Kebahagiaan dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an menggambarkan kebahagiaan dengan istilah falāḥ (keberuntungan), sa`adah (kebahagiaan), dan ṭuma’nīnah (ketenangan). Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra`d: 28)
Ayat ini menunjukkan bahwa kebahagiaan hakiki berakar pada ketenangan hati, bukan pada limpahan materi.
Syukur sebagai Sumber Kebahagiaan
Syukur merupakan sikap menerima dan mengakui nikmat Allah dengan hati, lisan, dan perbuatan. Allah SWT berfirman:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
Hati yang bersyukur akan selalu merasa cukup dan bahagia, karena memandang segala yang dimiliki sebagai karunia, bukan semata hasil usaha pribadi. Kesadaran ini melahirkan ketenangan dan menjauhkan diri dari sifat iri serta tamak.
Qana`ah: Merasa Cukup sebagai Kunci Kebahagiaan
Qana`ah adalah sikap menerima pemberian Allah dengan lapang dada dan merasa cukup terhadap rezeki yang diperoleh. Rasulullah ﷺ bersabda:
ليس الغنى عن كثرة العرض ولكن الغنى غنى النفس
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seseorang yang memiliki qana`ah akan terhindar dari kegelisahan hidup, sebab ia tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Inilah kebahagiaan yang lahir dari kesadaran bahwa Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Berbuat Baik sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan
Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan juga lahir dari perbuatan baik kepada sesama. Allah SWT berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Barang siapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)
Ayat ini menegaskan bahwa kebahagiaan (ḥayātan ṭayyibah) adalah balasan bagi mereka yang memadukan iman dan amal saleh.
Kedekatan dengan Allah sebagai Sumber Segala Keberhasilan
Kesadaran bahwa segala yang diperoleh bukan semata hasil usaha pribadi melahirkan sikap tawadhu` dan tawakal. Sebagaimana makna ungkapan:
Apa yang kau dapatkan tak segalanya karena atas dirimu sendiri,
Melainkan dari bagaimana kedekatanmu kepada Tuhanmu.
Allah SWT berfirman:
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka itu dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)
Dengan kedekatan kepada Allah, manusia menyadari bahwa hidup ini bukan sekadar perjuangan duniawi, melainkan perjalanan menuju ridha-Nya.
Kesimpulan
Kebahagiaan dalam perspektif Al-Qur’an bukanlah hasil dari kelimpahan materi, melainkan buah dari hati yang bersyukur, jiwa yang qana`ah, amal kebajikan, serta kedekatan kepada Allah SWT. Syukur melahirkan rasa cukup, qana`ah menghadirkan ketenangan, amal saleh mendatangkan kebahagiaan sosial, dan hubungan yang baik dengan Allah menjadi faktor terbesar kesuksesan hidup.

Mahasiswa Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta

