Al-Qur’an tidak selalu membuka nasihat-Nya dengan perintah atau larangan. Terkadang, Allah memulai dengan sebuah adegan sebagaimana Q.S Al Adiyat ayat 1-11, derap kuda perang, napas yang memburu, percikan api dari kuku-kuku yang menghantam bumi, sebuah pemandangan yang sarat makna tentang loyalitas dan kepatuhan.
berikut teks dan terjemah Ayat :
وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا (١) فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا (٢) فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا (٣) فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا (٤) فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا (٥) إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ (٦) وَإِنَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ (٧) وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ (٨) أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ (٩) وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ (١٠) إِنَّ رَبَّهُم بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيرٌ (١١)
Demi kuda perang yang berlari kencang terengah-engah, dan kuda yang memercikkan bunga api (dengan hentakan kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, sehingga menerbangkan debu, lalu menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, sungguh, manusia itu sangat ingkar, tidak bersyukur kepada Tuhannya, dan sesungguhnya dia (manusia) menyaksikan (mengakui) keingkarannya itu, dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan. Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan, dan apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan? Sungguh, Tuhan mereka pada hari itu Mahateliti terhadap keadaan mereka.
Sumpah Allah dan Gambaran Loyalitas Kuda Perang
Surah Al-‘Adiyat diawali dengan lima ayat pertama yang menampilkan pemandangan yang menggetarkan: suara napas kuda yang terengah-engah (dhabhan), percikan bunga api akibat gesekan kuku-kuku kuda dengan bebatuan (fal muuriyaati qadhan), hingga serangan kilat di waktu subuh yang menerbangkan debu di tengah medan pertempuran.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala bersumpah dengan gambaran kegagahan kuda perang tersebut bukan tanpa tujuan. Di balik derap langkahnya tersimpan nilai loyalitas yang utuh dan tanpa syarat. Kuda perang tidak mempertanyakan ke mana ia diarahkan, tidak menolak perintah meskipun bahaya nyata menanti di hadapannya. Seluruh geraknya tunduk pada kehendak tuannya, mencerminkan kepatuhan total tanpa perhitungan untung dan rugi.
Manusia yang Ingkar: Retaknya Loyalitas Seorang Hamba
Kontras tajam muncul pada ayat berikutnya melalui firman Allah: “innal insaana li rabbihi lakanuud”, yang menegaskan bahwa manusia bersifat ingkar dan tidak bersyukur kepada Tuhannya.
Ibnu Abbas menafsirkan istilah al-insaan dalam ayat ini sebagai manusia yang kafir, baik dalam makna kekufuran terhadap Allah maupun kekufuran terhadap nikmat-nikmatNya, yaitu dengan tidak mensyukuri karunia dan enggan menunaikan hak-hak yang melekat padanya.
Adapun kata al-kanuud berasal dari akar kata kanada yang bermakna memutus. Dalam konteks ini, maknanya mencakup pemutusan hubungan dengan Rabb, pemutusan aliran kebaikan kepada sesama, serta sifat kikir. (Mu’jam wasith, hal. 800)
Hasan Al-Bashri menjelaskan bahwa al-kanuud adalah tipologi manusia yang mengingat musibah secara detail, namun melupakan limpahan nikmat yang jauh lebih banyak.
Pada titik inilah terlihat awal keretakan loyalitas seorang hamba. Berbeda dengan kuda perang yang tetap berlari di tengah ancaman, manusia kerap berhenti ketika ujian datang. Kepatuhan sering muncul saat keadaan lapang, namun berubah menjadi keluhan ketika kesempitan hadir. Kesuksesan diklaim sebagai hasil usaha pribadi, sementara kegagalan disandarkan sepenuhnya pada takdir.
Akar Pengingkaran: Cinta Dunia yang Mengikat Hati
Al-Qur’an selanjutnya menegaskan bahwa sifat tersebut sebenarnya disadari oleh pelakunya sendiri melalui ayat “wa innahu ‘ala dzaalika lasyahiid”. Qatadah dan Ats-Tsauri menyatakan bahwa Allah menjadi saksi atas pengingkaran tersebut, dan dimungkinkan pula bahwa dhamir ayat itu kembali kepada manusia yang menyaksikan keburukan dirinya sendiri (Ibnu Katsir, jilid 8 hal. 525).
Kesadaran moral ini kerap bertabrakan dengan realitas ketergantungan manusia terhadap dunia. Hal tersebut dijelaskan lebih lanjut dalam ayat kedelapan: “wa innahu lihubbil khoiri lasyadiid”, yang menunjukkan kecintaan yang sangat kuat terhadap harta. At-Thabari dalam Tafsir Jāmi’ al-Bayān (juz 25, hal 567), menyebutkan bahwa kecintaan tersebut melahirkan sifat tamak dan kikir.
Ayat ini menghadirkan sindiran halus namun tajam. Seekor kuda perang dilepas ke medan laga tanpa membawa apa pun selain kepatuhan, sementara manusia sering kali membawa seluruh beban dunia saat menghadap Allah. Keterikatan berlebihan pada harta menjadikan langkah ketaatan berat dan penuh keraguan. Ketaatan sejati hanya mungkin terwujud ketika kecintaan kepada Sang Pencipta melampaui kecintaan terhadap kepemilikan duniawi.
Hari Dibukanya Hakikat Loyalitas di Hadapan Allah
Tiga ayat terakhir Surah Al-‘Adiyat mengarahkan perhatian pada hari kebangkitan, ketika seluruh manusia dibangkitkan dari kubur (bu‘tsiro maa fil qubur), dan segala isi dada akan ditampakkan (wa hushshila maa fi as-shuduur ). Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim mengutip riwayat Ibnu Mas‘ud menunjukkan bahwa seluruh amal dan niat yang tersembunyi akan dihadirkan tanpa tersisa.
Nilai loyalitas kuda perang diuji di tengah debu pertempuran, demikian pula loyalitas manusia akan diuji secara sempurna pada hari kebangkitan. Tidak ada kepatuhan yang tersembunyi, dan tidak ada pengingkaran yang dapat disamarkan.
Allah menutup surah ini dengan penegasan sifat-Nya sebagai Al-Khabiir, Maha Teliti. Jika seorang pemilik kuda mampu mengenali kesetiaan hewannya dari cara berlari, maka Allah jauh lebih mengetahui siapa hamba yang taat karena cinta dan siapa yang hanya menampakkan kepatuhan secara lahiriah.
Penutup
Kajian Surah Al-‘Adiyat menghadirkan cermin reflektif tentang makna loyalitas dalam penghambaan. Seekor kuda perang menjadi simbol kepatuhan total, sementara manusia yang dikaruniai akal dan dijanjikan kebahagiaan abadi dituntut untuk menunjukkan loyalitas yang lebih tinggi dan bermakna. Nilai kepatuhan kepada Allah bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan wujud cinta yang melampaui keterikatan pada dunia.
Mahasiswa Ilmu Al Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta

