Dunia hari ini tidak lagi bergerak dalam garis lurus. Kita hidup di era yang oleh para pakar disebut sebagai VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity). Sebuah era di mana kepastian menjadi barang mewah, dan perubahan terjadi secepat kedipan mata. Dalam konteks keagamaan, tantangan ini menjadi kian pelik: bagaimana tetap menjadi hamba yang saleh secara ritual, namun juga relevan dan kontributif secara sosial di tengah gempuran disrupsi digital dan polarisasi global?
Menjawab kegelisahan tersebut, KH. Maman Imanulhaq, Anggota Komisi VIII DPR RI yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan, menawarkan sebuah peta jalan intelektual saat mengisi seminar nasional di Universitas PTIQ Jakarta pada Jum’at (19/12/2025), ia tidak sekadar memberikan kuliah kepemimpinan formal, melainkan membedah sebuah metodologi hidup yang ia sebut sebagai filosofi “Tiga Kitab”.
Pesan ini sejatinya adalah sebuah otokritik sekaligus panduan bagi setiap Muslim modern agar tidak terjebak dalam dua ekstrem: menjadi tekstualis yang kaku atau menjadi modernis yang kehilangan akar.

Dialektika Teks dan Realitas: Melampaui Huruf
Landasan utama yang ditekankan Kiai Maman berangkat dari sebuah kaidah ushul fiqh yang sangat masyhur:
النُّصُوصُ قَدِ انْتَهَتْ، وَالْوَقَائِعُ لَا تَنْتَهِي
“Teks-teks (wahyu) telah selesai/terbatas, namun realitas dan peristiwa kemanusiaan tidak akan pernah berakhir.”
Kaidah ini adalah kunci untuk memahami mengapa agama harus terus berdialog dengan zaman. Kiai Maman mengingatkan bahwa Al-Qur’an dan Sunnah secara redaksional telah paripurna sejak masa Rasulullah SAW. Namun, persoalan manusia mulai dari etika kecerdasan buatan (AI), krisis iklim, hingga dinamika ekonomi siber adalah variabel yang terus berkembang tanpa henti.
Jika umat Islam hanya berhenti pada “apa yang tertulis” tanpa memahami “apa yang terjadi”, maka agama akan dirasakan sebagai beban sejarah yang usang, bukan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Kiai Maman menegaskan bahwa tugas intelektual Muslim adalah melakukan “jembatan” antara teks yang statis dan realitas yang dinamis. Di sinilah filosofi Tiga Kitab berperan sebagai instrumen navigasinya.
Kitab Kuning: Akar dan Kompas Moral
Kitab Kuning adalah simbol dari tradisi intelektual pesantren yang telah teruji selama berabad-abad. Bagi Kiai Maman, menguasai Kitab Kuning bukan berarti terjebak pada romantisme masa lalu, melainkan memiliki jangkar identitas.
Dalam dunia yang penuh dengan ideologi transnasional dan pendangkalan makna agama melalui media sosial, Kitab Kuning menawarkan metodologi berpikir yang runtut (manhaj). Di dalamnya terdapat sanad keilmuan yang jelas, tata bahasa yang presisi, dan kearifan para ulama terdahulu dalam membedah persoalan hukum dan etika.
Tanpa Kitab Kuning, seorang Muslim modern akan mudah terombang-ambing. Mereka mungkin tampak cerdas secara teknologi, namun rapuh secara epistemologi. Kitab Kuning adalah kompas agar dalam melakukan inovasi, kita tidak kehilangan prinsip-prinsip dasar (ushul) yang menjadi fondasi keislaman kita.
Kitab Putih: Literasi Data dan Integritas Ilmiah
Bergerak ke instrumen kedua, Kiai Maman memperkenalkan Kitab Putih. Ini adalah representasi dari sains, data, statistik, dan fakta objektif. Di era post-truth, di mana hoaks sering kali lebih dipercaya daripada kebenaran, Kitab Putih menjadi fardu kifayah bagi setiap penggerak masyarakat.
Kiai Maman mengkritik cara beragama yang hanya berdasarkan asumsi atau katanya. Beliau menekankan pentingnya evidence-based policy atau kebijakan berbasis bukti. Bagaimana mungkin kita bicara tentang penanggulangan kemiskinan hanya dengan dalil tanpa melihat data sebaran ekonomi? Bagaimana mungkin kita bicara kesehatan masyarakat tanpa merujuk pada riset medis?
Kitab Putih menuntut kita untuk menjadi pribadi yang jujur pada fakta. Ini adalah bentuk kejujuran intelektual. Seorang pemimpin, menurut Kiai Maman, tidak boleh hanya pandai beretorika dengan ayat, tetapi juga harus fasih membaca angka dan grafik untuk memastikan kemaslahatan yang dihasilkan tepat sasaran.
Kitab Abu-abu: Seni Membaca Realitas Sosial
Mungkin inilah poin yang paling krusial dalam orasi Kiai Maman: Kitab Abu-abu. Jika Kitab Kuning adalah teks dan Kitab Putih adalah data, maka Kitab Abu-abu adalah konteks.
Kehidupan nyata jarang sekali hadir dalam warna hitam dan putih yang kontras. Masyarakat adalah entitas yang kompleks dengan lapisan budaya, trauma sejarah, dan kepentingan yang beragam. Kitab Abu-abu adalah realitas lapangan yang dinamis.
Seorang kyai atau pemimpin yang hanya mengandalkan teks(Kuning) dan data (Putih) tanpa mampu membaca Kitab Abu-abu akan cenderung menjadi teknokrat yang dingin atau agamawan yang elitis. Membaca Kitab Abu-abu memerlukan empati, kepekaan sosial, dan kecerdasan rasa. Di sinilah kebijaksanaan diuji. kemampuan untuk menerapkan hukum Tuhan di atas bumi yang penuh dengan kerumitan manusiawi tanpa mencederai martabat kemanusiaan itu sendiri.
The Leaders, The Readers: Masa Depan adalah Milik Pembaca
Menutup paparannya, Kiai Maman menyitir adagium klasik, “The leaders, the readers.” Ungkapan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan bukanlah soal jabatan, melainkan soal kapasitas intelektual dan spiritual.
Beliau menekankan bahwa kualitas sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas bacaannya. Namun, membaca dalam visi Kiai Maman memiliki spektrum yang luas:
Pertama, Membaca Teks untuk memperdalam kedalaman spiritual. Kedua, Membaca Data untuk memperkuat akurasi tindakan. Ketiga, Membaca Konteks untuk menyentuh denyut nadi persoalan yang terjadi.
Integrasi dari ketiga jenis bacaan inilah yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang utuh. Mereka adalah orang-orang yang ketika berbicara, suaranya mengandung otoritas keilmuan (Kitab Kuning), kebenaran fakta (Kitab Putih), dan relevansi sosial (Kitab Abu-abu).

Muhammad Nabil Husain | Founder Teras Afkar, mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta, alumni Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon.

