Pemikiran Filsafat dan Tesis Kemajuan

Identitas Buku

Judul: Logika Kritis Filsuf Modern: Dari Pertentangan Gereja dan Sains Hingga Berkembangnya Paham Pragmatisme.

Penulis: Satrio Dwi Haryono.

Penerbit: Anak Hebat Indonesia.

Tebal Buku: 240 Halaman.

Cetakan Pertama: November 2025.

ISBN: 978-623-515-636-1.

Pemikiran Filsafat dan Tesis Kemajuan

Perdebatan mengenai relevansi studi filsafat pada masa kini, pernah kembali menjadi perdebatan sengit. Pasalnya, ihwal sumbangsih filsafat dalam kehidupan praktis masih dipertanyakan adanya. Banyak anggapan yang mendiskreditkan bahwa filsafat hanya berkutat pada ruang teoritis, tanpa melahirkan hal praktis yang bisa dirasakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Jauh sebelum perdebatan ihwal filsafat yang akhir-akhir ini mencuat, perdebatan yang sama, juga pernah terjadi dalam catatan sejarah peradaban Islam. Pada masa keemasannya, umat muslim di era Abbasiyyah selalu melibatkan keilmuan filsafat dalam membangun peradabannya. Hal itu terbukti, di mana Khalifah al-Ma’mun telah berhasil membangun Bait al-Hikmah (rumah kebijaksanaan), sebagai gedung akademis yang berguna untuk mendalami ilmu pengetahuan (filsafat) yang sedang berkembang.

Namun masa keemasan itu runtuh, ketika para pemikir muslim (filsuf muslim) mendapatkan kecaman atau penolakan dari kalangan ulama yang memiliki cara pandang yang ortodoks. Para ulama yang menolak pemikirian filsafat, memilik asumsi bahwa ilmu filsafat akan memproduksi pemikiran seseorang menjadi kufur. Pada akhirnya, sikap penolakan tersebut telah menjadikan filsafat haram untuk dipelajari pada masanya (Kustiawan, 2020).

Pada akhirnya, perdebatan tersebut telah menjadikan studi filsafat berada di persimpangan jalan: di satu sisi, filsafat dipertanyakan keabsahan dan sumbangsihnya dalam kehidupan nyata. Di sisi lain, sejarah mencatat bahwa kitab-kitab filsafat memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu sosial, sains, astronomi, matematika, geografis, biologi, dan lain-lain.

Kiranya perdebatan riskan itulah yang mendorong Satrio Dwi Haryono menuliskan Logika Kritis Filsuf Modern (2025) dengan mengurai-luruskan jejak-jejak pemikiran filsafat mulai dari pertentangannya dengan dogma agama (gereja), sains, hingga perkembangannya dalam abad modern. Filsafat dalam buku ini, diposisikan sebagai entitas sentral dalam sebuah kemajuan.

Pernyataan tersebut terlihat jelas dalam kata pengantarnya, Satrio mengatakan bahwa “membaca dan memahami filsafat modern akan membawakan kita pada pemahaman terang tentang kemajuan serta wacana yang menopang kemajuan itu sendiri” (hal, iv). Sehingga tesis dalam buku ini, menjadi sangat kentara bahwa yang akan dituliskannya adalah hubungan di antara filsafat dan ihwal kemajuan.

Namun tidak sekedar itu, buku ini juga menjelaskan sosok dan gagasannya serta kontribusinya dalam kehidupan, juga ilmu pengetahuan. Satrio membedah hal itu, mulai dari pintu masuk filsafat modern hingga gerakan intelektual postmodernisme dan pengaruhnya dalam dialektika pengetahuan.

Filsafat dalam Masa Pencerahan

Untuk membicarakan kontribusi filsafat dalam abad pencerahan, kita dapat mengajukan dua nama penting, yaitu Nichollo Machiavelli dan Francis Bacon. Di mana persinggungan di antara akal dan dogma agama sangat mengemuka pada awal abad (yang disebut) modern muncul. Namun dari Machiaveli dan Bacon, kita dapat menemukan batas terang antara dogmatisme agama dan determenasi akal guna meraih sejumput kemajuan ke arah yang lebih ilmiah (hal, vi).

Gagasan yang ditelurkan oleh filsuf pada awal abad modern seperti gagasan yang disampaikan Machiavelli dalam hal politiknya atau Bacon dengan gagasan metode induksinya, telah membawa cahaya terang kemajuan hidup, di mana ilmu pengetahuan tidak selayaknya tunduk pada dogma dan otoritas agama, yang barangkali sudah dipolitisasi oleh kaum elite agamawan (greja).

Sebuah ungkapan masyhur yang diungkapkan Bacon bahwa Knowledge is Power (pengetahuan adalah kuasa), adalah seruan kuat bahwa membuang jauh asumsi yang tidak terbukti—yang ia sebut sebagai Idols—adalah sebuah keharusan. Baginya, ilmu pengetahuan yang hebat, bukanlah pengetahuan yang tunduk pada otoritas agama, namun ia adalah yang paling nyata manfaat dan penemuannya bagi masyarakat.

Sehingga, jika Machiavelli mengajarkan kita cara menguasai panggung politik tanpa harus ada intervensi dogma, maka Bacon mengajarkan kita cara menguasai alam dengan seruan supremasi akalnya. Keduanya sepakat bahwa kekuatan sejati lahir dari akal yang melihat kenyataan, bukan sekadar imajinasi.

Dari sinilah gerbang pemikiran filsafat terbuka terang dan berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan dan kehidupan nyata dari waktu ke waktu—dari paham Rasionalisme hingga Postmodernisme.

Filsafat dalam Gerakan Sosial, dan Pendidikan

Pemikiran filsafat dari waktu ke waktu, memiliki andil besar dalam ihwal kemajuan. Kita tidak bisa menafikan bahwa beberapa gerakan sosial yang berusaha menggulingkan sistem yang menindas seperti Kapitalisme, berasal dari pemikiran filsafat. Sebut saja, tokoh seperti Karl Marx, seorang filsuf dari aliran filsafat Materialisme.

Karl Marx dari pemikiran Materialisme-nya, tidak hanya mendiskusian filsafat dalam ranah teorinya belaka. Tetapi juga, ia memasukkan paham Materialisme pada tatanan sosial dan ekonomi yang sedang mendominasi kehidupan manusia pada saat itu.

Marx menyadari, bahwa sistem ekonomi yang sedang berjalan pada saat itu tidaklah begitu menguntungkan bagi rakyat kecil (proletar). Di mana, alat produksi telah dikuasai oleh kaum borjuis yang dengannya hak yang diberikan pada kaum pekerja (proletar) tidaklah begitu imbang dengan kewajiban yang dibebankan kepadanya.

Sehingga, melalui kacamata Materialisme Historis-nya, Marx berpendapat bahwa struktur ekonomi (basis) sangat menentukan institusi sosial dan kesadaran manusia (superstruktur). Hal inilah yang memicu lahirnya gerakan perlawanan terorganisir yang bertujuan merebut alat produksi dari tangan borjuis. Dalam konteks ini, filsafat bukan lagi sekadar upaya memahami dunia, melainkan alat untuk mengubahnya secara radikal (hal, 182-187).

Pengaruh pemikiran ini kemudian merambah ke dunia pendidikan, yang melahirkan embrio Pedagogi Kritis. Dalam pandangan gerakan sosial yang terinspirasi Marx, pendidikan tradisional seringkali dianggap sebagai alat reproduksi status quo yang melanggengkan penindasan. Sebaliknya, pendidikan harus berfungsi sebagai proses apa yang disebut dengan konsientisasi atau penyadaran akan realitas sosial yang timpang.

Hal lain, juga dilakukan oleh John Dewey, salah satu tokoh filsafat aliran Pragmatisme, yang mengembangkan konsep pendidikan yang berbasis pada pengalaman (learning by doing). Menurutnya, para siswa tidak seyogyanya hanya bersikap pasif, sebaliknya mereka harus terlibat secara aktif melalui pemberian kesempatan dalam bereksperimen, berpartipasi dalam proyek, dan berdiskusi secara aktif.

Konsep itulah yang menurut Dewey, lebih memberikan pemahaman yang mendalam terhadap para siswa, karena mereka tidak hanya menerima teori semata, namun juga terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran. Tentu saja, konsep pendidikan yang sedemikian rumitnya, tidak muncul begitu saja, namun ia lahir dan tumbuh melalui perjalanan panjang pemikiran filsafat Pragmatisme yang selalu berorientasi pada solusi dalam kehidupan nyata (hal, 214-217).

Sehingga, selain buku ini mendedahkan ihwal latar belakang tokoh beserta kontribusi pemikirannya dalam kehidupan nyata, buku ini juga memperjelas tesis kemajuan sebuah peradaban—termasuk kemajuan sosial, pendidikan, dan ilmu pengetahuan lainnya—yang tidak terlepas dari sumbangsih beberapa aliran dan pemikiran filsafat dari waktu ke waktu.

Pada akhirnya, tesis kemajuan dan studi filsafat tidak bisa untuk dipisahkan, sebaliknya studi filsafat dan kemajuan selalu bergandengan tangan dari ruang-ruang diskusi hingga pada aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.