Hadis merupakan pedoman hidup umat Islam setelah Al-Qur’an. Ia berfungsi sebagai sumber ajaran yang membimbing umat agar hidup sesuai dengan kehendak Allah dan tuntunan Rasulullah SAW. Dalam perkembangannya, kajian hadis tidak hanya terbatas pada teks dan sanad, tetapi juga menaruh perhatian pada praktik sosial-keagamaan masyarakat yang terinspirasi dari hadis. Pendekatan ini dikenal dengan istilah living hadis, yaitu studi tentang bagaimana hadis “hidup” dan dipraktikkan dalam realitas sosial umat Islam.
Salah satu fenomena keagamaan yang dapat dikaji dalam perspektif living hadis adalah tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Di Indonesia, Maulid Nabi bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan telah bertransformasi menjadi tradisi sosial-budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Hampir di seluruh wilayah Nusantara, umat Islam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan berbagai bentuk kegiatan yang sarat makna religius dan sosial.
Hadis yang sering dijadikan dasar normatif dalam praktik peringatan Maulid Nabi adalah hadis riwayat Abu Qatadah al-Anshari. Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang alasan beliau berpuasa pada hari Senin, beliau menjawab bahwa hari Senin adalah hari kelahirannya. Hadis ini memberikan isyarat bahwa Rasulullah SAW mengekspresikan rasa syukur atas kelahirannya dengan amal ibadah (Muslim, 1995, jilid 2 hal 819). Dari sini, para ulama memahami bahwa memperingati hari kelahiran Nabi dengan melakukan kebaikan seperti membaca Al-Qur’an, bershalawat, bersedekah, dan berbagi merupakan bentuk kecintaan dan syukur kepada Allah SWT.
Di Indonesia, Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu peringatan keagamaan terbesar yang dirayakan secara massal. Menurut Nico Kaptein dalam bukunya Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad SAW ( 1994, hal 1), Maulid Nabi termasuk tiga hari besar utama dalam tradisi keislaman. Perayaannya dilakukan dengan penuh kegembiraan dan kekhidmatan, seperti pengajian, pembacaan shalawat, tabligh akbar, santunan kepada fakir miskin dan anak yatim, serta kegiatan sosial lainnya. Tradisi ini menunjukkan kuatnya posisi Nabi Muhammad SAW sebagai teladan utama umat Islam, yang akhlak dan ajarannya terus dijadikan rujukan dalam kehidupan sehari-hari.
Menariknya, di tengah arus modernisasi dan kemajuan teknologi, semangat masyarakat Indonesia dalam merayakan Maulid Nabi tidak mengalami kemunduran. Sebaliknya, tradisi ini tetap lestari dan bahkan semakin berkembang. Semua lapisan usia mulai dari anak-anak hingga lansia ikut terlibat dalam perayaan Maulid Nabi. Bagi masyarakat, peringatan Maulid tidak sekadar acara seremonial, melainkan momentum spiritual untuk meneguhkan cinta kepada Rasulullah SAW dan berharap memperoleh keberkahan.

Salah satu tradisi Maulid Nabi yang unik dan kaya makna terdapat di Desa Kadurahayu, Kecamatan Bojong Manik, Kabupaten Lebak, Banten. Masyarakat setempat merayakan Maulid Nabi dengan sebuah tradisi yang dikenal sebagai Panjang Mulud atau gotongan. Dalam tradisi ini, warga membuat karya seni berbentuk perahu, rumah, mobil, hingga istana yang dihias dengan meriah dan diisi dengan berbagai hasil bumi, makanan, sembako, uang, serta perlengkapan rumah tangga.
Pelaksanaan acara Panjang Mulud dimulai sejak pagi hari. Rangkaian acara diawali dengan lantunan shalawat yang dibawakan oleh anak-anak menggunakan rebana, dilanjutkan dengan arak-arakan gotongan yang diiringi shalawat, dan ditutup dengan ceramah keagamaan. Tradisi ini tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga menjadi ekspresi kegembiraan dan rasa syukur masyarakat atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dipadukan dengan kearifan budaya lokal.
Secara historis, menurut Watsiko (2014, hal 23) tradisi Maulid Nabi telah dikenal sejak masa Dinasti Ubaidiyah di Mesir pada abad ke-4 Hijriah. Di Nusantara, peringatan Maulid berkembang pesat melalui pendekatan budaya yang dilakukan para ulama dan Wali Songo. Di Jawa dikenal tradisi Sekaten, di Kudus terdapat Ampyang Maulid, di Aceh dikenal Kanduri Maulod, dan di Banten berkembang tradisi Panjang Mulud. Di Desa Kadurahayu sendiri, tradisi ini lebih akrab disebut Muludan, Marhabanan, atau gotongan, meskipun secara esensial memiliki makna yang sama.
Berdasarkan hasil wawancara (10/04/2025), tradisi Panjang Mulud di Desa Kadurahayu telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu sejak masa Sultan Agung Tirtayasa sekitar tahun 1615-1671 M. Pada awalnya, gotongan hanya berisi makanan sederhana seperti lauk-pauk, sambal, ayam bekakak, dan telur hias. Seiring waktu, bentuk dan isi gotongan mengalami perkembangan. Kini, gotongan dibuat lebih kreatif dan diisi dengan berbagai kebutuhan masyarakat. Meskipun mengalami perubahan bentuk, esensi tradisi ini tetap terjaga, yaitu berbagi dan bersyukur.
Menjelang hari pelaksanaan, seluruh warga desa terlibat aktif dalam persiapan. Kaum ibu sibuk memasak dan menyiapkan bingkisan, sementara kaum laki-laki mendirikan panggung, menghias masjid, dan membuat gotongan. Dana gotongan biasanya dikumpulkan secara gotong royong, di mana satu gotongan mewakili beberapa rumah. Hal ini mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan dalam tradisi tersebut.
Bagi masyarakat Desa Kadurahayu, Panjang Mulud bahkan dianggap sebagai “lebaran kedua”. Warga yang merantau akan pulang ke kampung halaman untuk mengikuti acara ini. Selain mempererat silaturahmi, tradisi ini juga membawa dampak ekonomi bagi pedagang lokal. Jumlah jamaah yang hadir bisa mencapai ribuan orang, namun acara tetap berlangsung tertib dan khidmat.
Rangkaian acara Panjang Mulud meliputi pembacaan Yasin dan tahlil, pembacaan kitab Barzanji, Mahalul Qiyam, tilawah Al-Qur’an oleh qari ternama, penampilan anak-anak, arak-arakan gotongan, dan ditutup dengan ceramah keagamaan. Antusiasme masyarakat terlihat jelas, bahkan mereka rela bertahan berjam-jam di bawah hujan demi mengikuti acara hingga selesai.
Dari perspektif living hadis, tradisi Panjang Mulud mengandung nilai-nilai keislaman yang kuat. Pertama, sebagai simbol rasa syukur kepada Allah SWT atas kelahiran Rasulullah SAW. Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitabnya Sunan Abu Dawud (2006, jilid 4 hal 403) :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ
“Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”
Ungkapan syukur dalam Panjang Mulud diwujudkan melalui sedekah, berbagi makanan, dan mempererat hubungan sosial.
Kedua, tradisi ini mengajarkan nilai tolong-menolong dan solidaritas sosial. Ketiga, Panjang Mulud menjadi sarana pendidikan karakter, khususnya bagi generasi muda, untuk menanamkan nilai cinta kepada Nabi, kebersamaan, dan kepedulian sosial.hal ini sejalan dengan hadis nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitabnya Shahih Ibnu Hibban (2012. Jilid 1 hal 453):
وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Allah akan selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.”
Hadis senada juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Kitabnya Shahih Bukari (2015, jilid 5 hal 244)
أخبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قالَ: «مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Anas bin Malik RA mengabarkan kepadaku bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim.”
Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya melestarikan budaya lokal, tetapi juga menjadi media pengamalan ajaran Islam yang kontekstual.
Pada akhirnya, tradisi Panjang Mulud di Desa Kadurahayu menunjukkan bahwa ajaran hadis dapat hidup dan berkembang dalam ruang budaya masyarakat. Tradisi ini menjadi bukti bahwa Islam mampu beradaptasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan nilai dasarnya. Sebagai living hadis, Panjang Mulud bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan praktik keagamaan yang relevan dan bermakna bagi kehidupan umat Islam hingga hari ini.
Referensi
Bukhari. Sahih Bukhari, Ensiklopedia Shahih al-Bukhari, ‘Aṭā’āt al-‘Ilm, 2015
Daud, Abu. Sunan Abu Dawud, India : Al-Maṭba‘ah al-Anṣāriyyah, 2006
Hibban,. Ibnu. Shahih Ibn Hibban, Beirut : Dar Ibn Hazm, 2012
Kaptein,Nico. Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad SAW, Jakarta: INIS, 1994.
Muslim, Sahih Muslim. Kairo: Isa al-Babi al-Halabi, 1955.
Waskito. AM. Pro dan Kontra Maulid Nabi, Jakarta, PUSTAKA AL KAUTSAR, 2014
wawancara dengan Kiyai Ahmad Rofiudin, selaku pengasuh Ponpes Daarul Ibtida Desa Kadurahayu pada tanggal 03 April 2025
Mahasiswa Ilmu Al Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta

