Allah SWT sebagai tuhan semesta alam yang menciptakan dan mengatur langit dan bumi ini sebagus mungkin dan tidak mungkin ada zat selain allah yang dapat melakukan seperti itu , dan dia lah Allah SWT yang juga menciptakan manusia dengan sebaik baiknya makhluq dan menjadikannya sebagai khalifah di muka bumi ini , dan diantara manusia yang allah ciptakan , ada beberapa kelompok manusia yang allah ciptakan dan allah angkat derajatnya untuk menyebarkan ajaran ajaran allah yaitu ketauhidan , sebagaimana yang Allah katakan dalam firmannya Q.S Al Anbiya:25
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّه لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ
“Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku.”
Tugas para rasul sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammads SAW adalah menyampaikan wahyu kepada umatnya. Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, baik yang disebutkan namanya di dalam Al-Qur’an maupun yang tidak disebutkan sebelum engkau Muhammad, melainkan Kami wahyukan kepadanya ajaran tauhid yang menjadi ajaran dasar para nabi, bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku dengan mengikuti petunjuk-Ku.
PENAFSIRAN MUFASSIR
Ibnu ‘Āsyūr dalam kitabnya At-Taḥrīr wa al-Tanwīr (1984, Vol. 17, hlm. 48–49) menjelaskan bahwa penyebutan ayat ini bukan sekadar untuk menegaskan ayat-ayat tauhid yang telah disebutkan sebelumnya, melainkan untuk menunjukkan besarnya perhatian Allah dalam menghilangkan kemusyrikan dari jiwa manusia dan mencabut akar-akar syirik demi memperbaiki akal serta cara berpikir mereka.
Allah senantiasa memutus berbagai khayalan batil dan pendapat yang paling lemah. Dan tidak ada syariat yang benar-benar memutus habis kemusyrikan sebagaimana syariat Islam memutuskannya, sehingga tidak lagi muncul praktik penyembahan berhala dalam umat ini.
Adapun huruf “من” pada firman Allah “وما أرسلنا من رسولٍ…” adalah tambahan (zaidah) untuk semakin menegaskan makna penafian.
Dalam tafsirnya Ibnu ‘Āsyūr menyebutkan bahwa ayat 25 ini bukanlah sekedar ayat penegasan bahwa allah adalah tuhan yang harus disembah melainkan juga sebagai bentuk kasih sayang allah rahmah untuk membasami kemusyrikan yang ada di muka bumi ini hingga sampai ke akarnya.jumhur membaca ayat ini dengan illa yuuha ilaihi ,alasannya karena dalam qiroat, mayoritas fokusnya pada wahyu yang di sampaikan, bukan siapa yang menyampaikan . sementara imam hafs,hamzah dan kisai membaca dengan nuuhii .
Fakhruddin al-Rāzī dalam Mafātīḥ al-Ghayb (1997, hlm. 158) menjelaskan bahwa salah satu sebab utama munculnya kemusyrikan dan kerusakan dalam diri seseorang adalah hilangnya ilmu atau kebodohan serta sikap berpaling dari kebenaran yang telah datang kepadanya.
Sedangkan Menurut Ibnu Jarīr al-Ṭabarī dalam Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āyi al-Qur’ān (2007, Vol. 4, hlm. 50), ayat ini merupakan argumentasi Allah terhadap kaum musyrik yang mengklaim adanya tuhan selain-Nya. Allah menantang mereka untuk mendatangkan bukti atas keyakinan tersebut, sembari menegaskan bahwa seluruh wahyu yang diturunkan kepada para nabi berisi peringatan tentang balasan bagi ketaatan dan ancaman bagi kekufuran.
Lebih lanjut, al-Ṭabarī menjelaskan bahwa seluruh amal tidak akan diterima sebelum seseorang mengikrarkan dan meyakini tauhid. Meskipun syariat yang dibawa para nabi berbeda-beda, Taurat memiliki syariatnya sendiri, Injil memiliki syariatnya sendiri, dan Al-Qur’an juga memiliki syariatnya sendiri yang mencakup ketentuan halal dan haram, seluruhnya bertumpu pada prinsip yang sama, yaitu keikhlasan dalam beribadah kepada Allah dan pemurnian tauhid hanya kepada-Nya. Dengan demikian, perbedaan syariat tidak menghilangkan kesatuan misi para rasul, yakni mengajak manusia untuk mengesakan Allah dan beribadah kepada-Nya dengan penuh keikhlasan.
Selaras dengan al-Ṭabarī , Hamka dalam Tafsir Al-Azhar (1989, Jil. 10, hlm. 4559) menjelaskan bahwa QS. Al-Anbiyā’ [21]: 25 merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yang menegaskan bahwa peringatan yang dibawa Nabi Muhammad saw. pada hakikatnya sama dengan peringatan yang dibawa para nabi terdahulu. Menurutnya, tidak ada satu pun nabi yang menerima wahyu yang mengajarkan untuk mempersekutukan Allah, sehingga kaum musyrik tidak memiliki alasan maupun bukti yang dapat membenarkan keyakinan mereka. Ayat ini semakin memperjelas bahwa seluruh rasul yang diutus Allah membawa satu ajaran yang sama, yaitu tauhid, sebagaimana firman-Nya: “Tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.”
Implikasi ayat pada kehidupan
Ayat ini secara tidak langsung sangat menyinggung kita pada zaman sekarang, yang mana saat ini manusia sudah tidak lagi melihat siapa dan kemana ia tunduk atau patuh. Seolah allah ingin mengingatkan kita betapa penting nya tauhid atau mengesakan allah yang kita miliki sejak lahir itu yang kita harus pegang erat erat sampai akhir hidup kita.
Salah satu implementasi kehidupan saat ini adalah banyaknya oknum oknum yang membawa agama untuk berdakwah namun didalamnya hanya ajaran ajaran yang justru menyimpang dari agama. seakan agama itu hanya sebatas cover atau pelindung untuk menipu atau mengajak masyarakat agar mau bergabung. Dan yang membuat semakin aneh adalah para pengikutnya semakin bertambah na’udzubillah .
Padahal nabi kita Muhammad SAW sudah menjelaskan nya di dalam hadits Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim no. 118).
Hadits ini sangat jelas menyebutkan jika akan datang musibah di mana seseorang yang pagi nya beriman kemudian sore nya ia kafir kepada allah, semoga allah tetapkan iman di dalam hati kita sampai ajal menjemput.
KESIMPULAN
Tujuan utama ayat ini bukan sekadar menegaskan tauhid, tetapi menunjukkan kasih sayang Allah (rahmah) untuk memberantas kemusyrikan hingga ke akar-akarnya. Allah ingin memperbaiki akal manusia dengan memutus khayalan batil dan keyakinan lemah. Keistimewaan syariat Islam adalah paling tegas dan tuntas dalam memutus praktik kemusyrikan dibandingkan syariat sebelumnya, sehingga penyembahan berhala tidak muncul lagi di tengah umat ini. Wallahu a’lam
Referensi
Al-Razi, Fakhruddin. Mafātīḥ al-Ghayb. Jilid 31. Beirut: Madār Azhar, 1997.
Asyur, Muhammad al-Thahir Ibn. Al-Taḥrīr wa al-Tanwīr. Jilid 17. Tunis: Dār al-Tūnisiyyah li al-Nasyr, 1984.
Hamka. Tafsir Al-Azhar. Jilid 10. Jakarta: Pustaka Nasional PTE LTD Singapura, 1989.
At-Ṭabari, Ibnu Jarir. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āyi al-Qur’ān. Vol. 4. Diterjemahkan oleh Ahmad Abdurraziq Al-Bakri dkk. Jakarta: Pustaka Azzam, 2007.

Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta

